YR Edy Purwanto, Pr: JANGAN GOLPUT – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

YR Edy Purwanto, Pr: JANGAN GOLPUT

Pada hari pemilihan umum 17 April nanti, diharapkan warga masyarakat tidak bepergian dan tidak golput. Karena golput berarti menyerahkan nasib bangsa kepada orang yang tidak bertanggungjawab. Ini bisa terjadi karena banyak hal, termasuk harga komoditas kebutuhan sehari-hari, terpengaruh oleh kebijakan politik pemerintah. Demikian kata YR Edy Purwanto, Pr, Vikjen KAS, Kamis (24/1) di Aula Gereja St. Thersia Sedayu, dalam seminar “Menjadi Pemilih yang Cerdas.” Pembicara lainnya adalah YB. Wijayanjono, ketua PK4 DIY, dengan moderator Ranggabumi Nuswantoro. Juga hadir memenuhi undangan 12 calon angota DPR dan DPD Katholik di Yogyakarta, termasuk MY Esti Wijayanti, anggota DPR RI.

Rama Edy mengatakan bahwa umat Katholik harus peduli secara sosial dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Gereja juga mengajak umat untuk tidak alergi politik, namun mengembangkan politik yang menuju usaha mewujudkan kesejahteraan bersama. Mengutip Bertold Brecht, sastrawan Jerman, Rama Edy mengatakan bahwa buta terburuk adalah buta politik, karena dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam kehidupan politik masyarakat. Orang yang buta politik tahu bahwa biaya hidup dan harga komoditas di pasaran tergantung pada keputusan politik. Namun karena kebodohannya, ia justru bangga dengan mengatakan bahwa ia benci politik. Orang yang buta politik ini tidak tahu bahwa kebodohannya menjadi penyebab pelacuran, anak terlantar, dan rusaknya ekonomi perusahaan nasional.

Terhadap para politisi Katholik, Gereja tidak berharap adanya balas jasa. Namun diharapkan politisi Katholik memperjuangkan seluruh masyarakat dan menjalankan tugas sesuai fungsinya. Gereja juga menolak adanya politik uang, baik yang ditawarkan oleh pihak politisi mau pun balas jasa yang diminta masyarakat. Romo Edy mensinyalir, politik  adu domba agama, seperti yang dialami Ahok, berakar pada tiadanya landasan ideologi yang kuat, sehingga para pemilih digiring pada hal-hal yang praktis. Maka hari pemilihan adalah momen untuk membuat perubahan, yaitu dengan memilih caleg-caleg Katholik. Sehingga pemilih perlu ingat nama atau nomor urut caleg dan nama partai politik. Perubahan bisa dilakukan jika pemilih beriman, cerdas dan bijak. Beriman maksudnya berpartisipasi sebagai perwujudan iman, cerdas maksudnya paham apa yang dilakukan, dan bijak maksudnya tidak memilih berdasar sentimen sektarian atau transaksional. Seperti yang diungkapkan oleh Rama Frans Magnis Suseno, bahwa pemilu bukan memilih yang terbaik, namun mencegah yang terburuk berkuasa.

Sementara itu YB Wijayanjono lebih menyoroti hitung-hitungan keberhasilan seorang caleg. Ia mengatakan bahwa jumlah pemilih yang datang ke TPS sekitar 80% dari daftar pemilih. Jumlah suara yang sah adalah 95% dari jumlah pemilih yang datang. Dan jumlah mereka yang memilih nama calon adalah 70% dari jumlah suara sah, atau sekitar 50% dari daftar pemilih. Sedangkan target suara untuk bisa mengamankan kursi dewan adalah jumlah pemilih keseluruhan dibagi jumlah jatah kursi. Dengan hitung-hitungan seperti ini, maka bisa diperkirakan berapa suara yang bisa diraih dan berapa lagi yang harus dicari. YB Wijayanto berharap agar caleg Katholik dan pemilih Katholik bisa berhitung agar jumlah orang Katholik yang duduk di DPRD, DPR RI dan DPD bisa bertambah.

 

Wawan S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *