Tuhanlah Terangku – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Romo Menyapa

Tuhanlah Terangku

Dominus Illuminatio Mea. Tuhanlah terangku (Mzm. 27). Tak henti-hentinya aku bersyukur pada Tuhan atas rahmat ‘terang’ yang boleh aku terima, sehingga aku bisa berjalan dengan tuntunan-Nya. Aku menyadari bahwa proses formatio (pendampingan) yang aku alami hingga saat ini, bahkan sampai diperkenankan menerima anugerah tahbisan suci, merupakan bentuk nyata bahwa Tuhan hadir dan menuntunku. Aku merasa bahwa dalam perjalanan panggilan ini, aku bukanlah siapa-siapa tanpa diri-Nya. Sikap pasrah diri, tanggungjawab, dan juga komitmen diri atas pilihan hidup yang sudah kuambil menjadi bentuk atau wujud tanggapanku akan panggilan Tuhan. Tulisan singkat ini adalah sepenggal kisah tentang jejak-jejak panggilan Tuhan yang sangat aku syukuri di dalam kehidupanku.

Hari ini adalah Hari-Nya Tuhan

Awal panggilanku terjadi ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. Waktu kecil aku mempunyai cita-cita menjadi dokter. Namun berubahnya cita-citaku terlebih setelah aku merasakan bahwa Tuhan memanggilku.

Aku merasakan panggilan ini ketika aku mengikuti dan merayakan Ekaristi di Kapel St. Yosep (Kapel lingkunganku). Waktu itu aku disuruh bernyanyi di hadapan umat oleh Romo  Yanuarius Bambang Triantoro, Pr. Lagu yang aku nyanyikan adalah “Hari Tuhan”. Waktu menyanyikan lagu itu aku merasa senang sekali. Setelah itu, Romo Bambang bertanya kepadaku, “Hen, kamu mau jadi Romo, tidak?” Tak tahu kenapa, dengan tegas aku menjawab “Iya, Romo.”

Inilah karya Tuhan. Romo Bambang tak hanya memberi tantangan untuk bernyanyi saja, tetapi beliau juga menyuruhku untuk berjanji di hadapan umat bahwa aku akan menjadi seorang Romo. Janji itu terus menggema dalam hidupku. Meski saat itu aku belum tahu tentang panggilan menjadi seorang Imam. Di antara keluarga besarku belum ada yang menjadi Imam. Maka, tak terbayang olehku tentang gambaran hidup menjadi seorang Imam. Namun, aku memaknai peristiwa ini sebagai awal Tuhan memanggilku; layaknya syair yang aku nyanyikan saat itu “hari ini harinya Tuhan”.

Setelah pengalaman itu, setiap kali ditanya orang tentang cita-cita aku selalu menjawab ‘jadi Romo/Pastor’. Teman-temanku heran kenapa aku memilih untuk menjadi Pastor. Aku pun hanya menjawab “tidak tahu, tapi hatiku mengarahkanku untuk menjadi Pastor”. Lagi-lagi kurasakan karya Tuhan yang selalu mendampingiku, terlebih selalu menguatkan panggilan ini.

Di akhir SMP sebenarnya aku ingin langsung masuk Seminari, namun aku merasa panggilanku belum terlalu matang dan kuputuskan untuk melanjutkan ke jenjang SMA sembari mengolah dan menguatkan benih panggilan yang ada dalam diriku.

Selama SMA, panggilan untuk menjadi Imam tetap ada meskipun gairah mencintai lawan jenis juga aku rasakan amat kuat. Menghadapi kejadian itu, aku semakin bimbang, antara mau mengolah panggilanku atau melepas panggilanku dan membangun relasi yang erat dengan pacarku. Dalam pengolahanku, aku memutuskan untuk membangun relasi dengan lawan jenis atau pacaran. Namun, masa pacaranku tak seperti yang aku pikirkan. Hanya seminggu saja aku menjalin hubungan dengannya. Hal menarik yang dikatakannya ketika hubungan kami berakhir adalah, “Hen, aku tahu dan memahami bahwa cinta kita tidak bisa lama. Ada ketidakcocokan di antara kita. Aku tahu cita-citamu yang mendalam adalah menjadi Pastor. Hidupilah dan olahlah panggilan itu! Aku akan selalu mendukungmu di jalan panggilan itu.”

Kembali aku merasakan kebingungan dan kehampaan hati. Mau diarahkan ke mana sebenarnya hidupku ini? Aku merenung dan mengolah hidupku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali menanggapi dan mengolah keinginanku untuk menjadi Pastor. Tuhan mengarahkanku untuk masuk ke Seminari Menengah St. Petrus Canisius, Mertoyudan.

Aku Dituntun-Nya dalam Menapaki Lika-Liku Kehidupan Panggilan

Awal masuk Seminari Menengah sebenarnya aku merasakan jalan panggilan ini biasa-biasa saja. Namun setelah menjalani dan memperdalam proses formatio aku dibantu untuk berefleksi dan semakin mendekatkan diri pada Dia yang memanggilku. Pada masa KPA (Kelas Persiapan Atas) kadang aku masih mempertanyakan tentang kebenaran panggilan ini. Namun bertambahnya hari, aku merasa panggilanku semakin mengakar kuat. Menanggapi tawaran panggilan yang Tuhan berikan ini, yang kuperbuat adalah tetap setia mengolah panggilan dan bertanggungjawab atas pilihan hidupku ini. Allah sendiri yang memulai pekerjaan yang baik itu padaku, dan aku yakin Ia akan meneruskan pekerjaan itu sampai selesai pada Hari Kristus Yesus datang kembali (Filipi 1:6).

Kutambatkan Hatiku pada Keuskupan Agung Semarang

Waktu retret seminaris Medan Utama di Parakan, Temanggung, aku sungguh dikuatkan untuk memilih menjadi Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang (KAS). Gambaran untuk menjadi Imam Diosesan KAS telah ada dalam diriku sejak kecil. Hal tersebut dikarenakan dari awal sampai sekarang Romo-Romo yang berkarya di parokiku adalah Romo-Romo Diosesan KAS.

Pengalaman perjumpaan dengan Allah dalam diri Imam Diosesan kualami ketika akan melanjutkan ke Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya, Jangli. Saat itu, aku tertarik akan sosok Romo Yakobus Winarto, Pr. Beliau begitu rendah hati, mengumat, mau melayani dengan setia. Salah satu hal yang menarik adalah beliau berkenan mencuci pakaian-pakaian misdinar yang kotor secara manual (mencuci dengan tangan) dan mau membersihkan gereja sendirian. Melihat kejadian itu aku bertanya, “Mo, kok Romo mencuci pakaian misdinar? Mengapa tidak diserahkan ke petugas yang biasa mengurusi ini?” Kemudian beliau  menjawab, “Lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan sekarang, mumpung kamu masih bisa berbuat sesuatu!” Sikap kerendahan hati inilah yang membuatku semakin tertarik untuk menambatkan diri menjadi Imam Diosesan KAS.

Menjadi Imam itu Berarti Menjadi Gembala Berbau Domba

Pada proses formatio selanjutnya, aku diperkenankan untuk menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. Secara khusus, aku rasakan pengalaman TOP adalah merasakan dan ‘melebur diri’ di tengah-tengah umat sebagai calon imam Diosesan KAS yang diutus, dipercaya, dan diberi tanggungjawab untuk bisa semakin mewartakan Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Adanya sapaan hangat sang Gembala terhadap domba-dombanya sangat dibutuhkan dalam karya pelayanan pastoral. Berkaitan dengan hal ini aku teringat akan kalimat seperti ini: dadia pangon sing mambu wedhus! Artinya, seorang gembala yang baik adalah yang mengenal, mengerti, dan memahami domba-dombanya.

Layanilah Satu Sama Lain dalam Kasih

Rahmat suci Tahbisan Imamat yang kuterima, sungguh anugerah yang tak terhingga dari Tuhan. Dengan rendah hati, aku menyerahkan diriku seutuhnya pada Tuhan dengan terus berusaha menjadi gembala yang baik, dan mau berkorban untuk dombanya. Tahbisan Imamat ini bukanlah akhir dari perjalanan panggilanku, namun justru menjadi pijakan awal dalam karya pelayananku sebagai gembala. Akhirnya, belajar dari Santo Paulus, aku pun menyerahkan segala kemerdekaanku untuk melayani sesama dalam Kasih (Gal. 5:13). Semoga aku bisa menjadi berkat bagi apa dan siapa saja. Dan semoga diriku tetap setia pada Yesus Kristus dengan menjadi Imam-Nya sampai akhir hayat.

Antonius Hendri Atmoko, Pr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *