TUHAN MENCINTAI SEMUA ORANG – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
BeritaHarpa

TUHAN MENCINTAI SEMUA ORANG

Saya adalah orang yang dicintai Tuhan. Tuhan juga mencintai semua orang, baik yang berkaki dua, maupun yang duduk di atas kursi roda. Saya juga dicintai oleh keluarga, oleh teman di sekolah dan oleh lingkungan. Mengapa saya dan Anda dicintai? Karena setiap orang berhak dicintai. Demikian kata Frater Cosmas Christian Timur atau Frater Oot, Frater Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Minggu (27/10) dalam Ekaristi Inklusi dengan tema Mencintai Alam dalam Kemajemukan.

Frater Oot, dalam homili Ekaristi, mengatakan sebagai difabel kadang dirinya merasa tidak punya teman, tidak mendapat dukungan. Jika seseorang tidak mendapat dukungan, maka ia tidak akan berkembang. Padahal seharusnya manusia tidak dibedakan hanya karena kemampuannya. Frater Oot mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk masuk seminari ketika orang seusianya memutuskan menikah. Alasannya masuk seminari adalah agar bisa berbagi syukur. Berbagi syukur tidak harus dengan cara yang rumit. Bisa juga dengan cara sederhana, misalnya dengan senyuman atau sapaan.

Dalam ramah tamah bersama penyandang disabilitas dan pendampingnya, Frater Oot mengucap terima kasih kepada keluarga karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Karena seorang difabel tentu mengalami keadaan yang tidak stabil. Kadang hidup terasa sulit. Tapi, apakah orang lain hidupnya mudah? Tidak juga. Mengurusi penyandang disabilitas juga tidak mudah. Oleh karena itu, dalam pertemuan dengan sesama difabel atau sesama keluarga difabel, merupakan kesempatan untuk berbagi cerita, untuk saling mendukung, untuk saling mendoakan.

Kepada penyandang disabilitas, Frater Oot mengatakan agar mereka tidak mudah menyerah. Setiap orang, termasuk penyandang disabilitas boleh bermimpi apa pun. Tapi ia juga harus sadar, bahwa manusia takkan tahu kapan mimpinya akan menjadi kenyataan. Karena yang tahu hanya Tuhan.

Ketika ditanya, apa yang paling sulit dalam pengalaman dirinya menjadi calon imam, Frater Oot menyebut menerima kenyataan bahwa dirinya difabel adalah yang paling sulit. Karena sejak kecil dirinya berlatih mandiri. Ia biasa membersihkan rumah dan menggembalakan kambing. Ketika masuk ke seminari, ia diminta untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, karena seorang difabel kadang ada organ tubuh lain yang tidak normal. Namun ia terbukti sehat kecuali kakinya. Ia juga diminta melakukan apa yang dilakukan seorang imam, yaitu berlutut, membawa piala, berdiri lama dan lainnya. Dan ia bisa. Justru yang sulit adalah menjelaskan kepada umat, tentang keadaan disabilitas ini. Karena sering dikira pakai kruk (tongkat ketiak) karena baru saja kecelakaan.

Bagi orang tua, hal yang perlu di mengerti adalah masa depan penyandang disabilitas. Orang tua kadang berpikir anak harus begini agar mandiri. Tapi mereka tidak pernah menanyakannya pada anak tersebut. Frater Oot mengatakan orang tuanya tidak pernah menuntut. Namun mereka mengajak dirinya bicara. Karena pikiran orang tua dan pikiran anak penyandang disabilitas kadang berbeda. Karena itu orang tua harus mengajak anaknya bicara. Romo Yohanes Tri, dalam penutup acara ramah-tamah, mengatakan bahwa yang diciptakan Tuhan tidak ada yang tidak baik. Yang tidak baik hanyalah pikiran manusia. Dan ciri orang yang mampu bersyukur adalah berpikir positif dan memiliki harapan ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *