Sejarah Gereja Sedayu – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Sejarah

Sejarah Gereja Sedayu

sedayu

Bibit-Bibit Umat Katholik Di Sedayu

Keberadaan umat Katholik di Sedayu dan sekitarnya bukanlah suatu yang tiba-tiba berkembang dalam semalam. Tentu perlu proses yang berjalan setahap demi setahap. Namun sayangnya, untuk kawasan pedesaan seperti di Sedayu, pada waktu itu tidak ada dokumentasi yang memadai. Sebuah catatan yang mungkin berkorelasi menyatakan bahwa pada 14 April 1865, seorang pastor bernama Jean Babtist Palinckx, SJ. menjadi pastor pertama yang ditugaskan di Stasi Yogyakarta. Pada saat itu umat Stasi Yogyakarta, yang juga meliputi Kedu, Bagelan, dan Banyumas, berjumlah sekitar seribu orang.

Nama-nama pastor lain yang tercatat bertugas di Yogyakarta adalah Pastor Theodorus Peters, yang bertugas mulai 1870 sampai wafatnya pada 20 Juni 1871. Kemudian Pastor Gerard Smit yang menjadi pastor pembantu di Yogyakarta pada 1890. Pada Januari 1896, Pastor John Vreede dan seorang katekis bernama Martinus Martadiredjo, yang sebelumnya bertugas di Ambarawa dan Bedono, ditugaskan melayani Yogyakarta. Setengah tahun kemudian ada Pastor Helings dan Pastor Hebrans. Pada 22 Maret 1897 Pastor Petrus Hoevernaars pindah ke Yogyakarta, dan dia adalah pastor pertama yang memohon ijin untuk mengajar agama kepada masyarakat lokal. Namun permohonan tersebut ditolak oleh Resident Ament. Hingga akhirnya sekitar tahun 1914, Pastor H. Van Drissche mengajarkan tentang agama Katholik kepada masyarakat Yogyakarta. Ternyata ia tidak mendapat halangan, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Pastor Van Driessche mengajar di Yogyakarta sampai tahun 1923. Salah satu muridnya adalah Yoseph Poerwodiwiryo,  yang kemudian menjadi katekis.

Pada masa itu di perempatan Sedayu terdapat pabrik penggilingan tebu yang sedang menuju ambang kehancuran. Lori-lori menarik gerbong tebu dari lahan perkebunan tebu menuju ke pabrik tersebut.  Pabrik ini kemudian masih beroperasi sampai dengan kedatangan tentara Jepang. Di dekat pabrik tersebut terdapat stasiun kereta api, yang merupakan stasiun terbesar di Yogyakarta bagian barat. Sehingga sekitar pabrik ini tentu menjadi daerah yang ramai. Di antara warga di sana, terdapat juga beberapa umat Katholik. Mereka didatangi oleh Yoseph Poerwodiwiryo untuk diberi pelajaran agama Katholik. Namun ada juga warga Sedayu yang ikut pelajaran agama di Yogyakarta.

Pada tahun 1923 datanglah Rm. Reksoatmadja SJ. ke Sedayu. Beberapa warga menyambut baik kedatangan Romo Reksoatmadja ini. Nama-nama lain yang tercatat datang ke Sedayu adalah Pastor H Nollen M.S.C. pada 18 Desember 1921 dan Pastor H. van Drissche. Lalu tahun 1924 Romo Reksoatmadja datang bersama Pastor Karl de Hoog, SJ. Saat itu Pastor de Hoog tengah bertugas di Muntilan. Tahun berikutnya Romo Reksoatmadja datang bersama Pastor Strater, SJ dan mengadakan pertemuan dengan 25 warga Sedayu untuk memberikan ajaran agama Katholik.

Pendirian Bangunan Gereja

Proses berkembanganya komunitas Katholik di Sedayu ini bukannya tanpa hambatan. Tetap ada beberapa warga yang tidak suka dengan aktifitas para misionaris ini. Meski begitu, akhirnya Ekaristi pertama bisa dilangsungkan di Sedayu tanggal 14 Januari 1926. Ekaristi ini dihadiri 180 warga, 30 diantaranya sudah menjadi Katholik dan menerima Sakramen Mahakudus.

Mengetahui bahwa sebagian besar umat Sedayu belum bisa membaca dan menulis, membuat Romo Reksoatmadja, SJ dan Pastor Strater, SJ tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu. Keduanya kemudian memprakarsai sekolah-sekolah untuk masyarakat umum. Akhirnya didirikan Volkschool di Nglahar-Tiwir, Volkschool di Kaliduren, dan Vervolkschool di Gubug. Pastor Strater, SJ yang saat itu memimpin Novisiat SJ di Yogyakarta kemudian memecah Yogyakarta menjadi 8 stasi uatama dan 25 stasi pembantu. 8 stasi utama ini adalah Medari, Somohitan, Mlati, Klepi-Ngijon, Wates, Bantul, Wonosari, dan Kalasan. Sedang Sedayu dan Ganjuran termasuk stasi pembantu.

Melihat perkembangan yang menggembirakan di Sedayu, maka Romo Reksoatmadja, SJ dan Pastor Strater, SJ mencetuskan gagasan untuk mendirikan gereja di Sedayu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1925. Mereka kemudian mencari sebidang tanah dengan harga 300 ribu gulden. Mangoendarmo, seorang penguasa tanah di Gubug bersedia melepas sebidang tanahnya yang terletak di tepi sungai. Mangoendarmo yang semula tinggal di tanah tersebut kemudian pindah ke tengah dusun. Proses jual beli tanah ini menjadi awal keterlibatan Mangoendarmo dalam penyebaran agama Katholik.

Kedatangan Karl de Hoog, SJ

Pada tahun 1926, Karl de Hoog, SJ yang baru saja menyelesaikan cuti sakitnya di Belanda, tiba di Yogyakarta untuk ditugaskan di Sedayu. Tentu saja kedatangan romo de Hoog mendapat sambutan hangat umat di Sedayu. Karl de Hoog adalah romo pertama yang ditugaskan menetap di Sedayu. Romo de Hoog disukai umat karena murah hati. Ia sering memberikan pakaian baru kepada siapa pun yang datang kepadanya untuk minta pakaian. Dan sebagai gereja darurat, digunakanlah rumah milik Wongsodikromo, di Sedayu.

Dengan penuh semangat, Romo de Hoog menyebarkan agama Katholik. Ia dibantu oleh Mangoendarmo bersama putranya, dan beberapa lainnya. Sebagai katekis, mereka mendapat upah. Seorang katekis “full time” mendapat bekal 25 rupiah per bulan. Sedang seorang katekis “propagandis” mendapat bekal 15 rupiah per bulan. Di kemudian hari, Mangoendarmo menjadi seorang katekis “propagandis.” Pada tahun 1931, atas permintaan Strater SY, Mangoendarmo mengikuti misa pada Sabtu Sepi di Kotabaru, bersama empat orang lainnya.

Romo de Hoog menjalani tugasnya di Sedayu dengan senang hati. Baginya, ini merupakan berkah pengabdian dari Tuhan. Gereja sementara, tempatnya mempersembahkan Ekaristi, merupakan sebuah rumah kecil yang hampir roboh dengan berdinding anyaman bambu. Setiap pagi Romo  de Hoog menyusuri rumah-rumah penduduk, menuju gereja sementara untuk mempersembahkan misa pagi.

Gambar Hati Kudus Tuhan Yesus  dan Maria ditempelkan di dinding bambu. Pada sebuah altar putih, lilin-lilin menyala  membuat keadaan menjadi tenang dan damai. Umat Katholik duduk di depan altar secara berkelompok. Pada malam harinya, Romo de Hoog berkeliling ke dusun-dusun memberikan pelajaran agama.

SELALU INGAT AKAN ANUGRAH SAKRAMEN MAHAKUDUS

Keberadaan seorang Romo di Sedayu ternyata meresahkan kalangan tertentu. Mereka mengancam akan memberhentikan para pengikut Romo de Hoog  dari pekerjaannya. Salah satu ancamannya adalah, para wanita tidak akan mendapat benang pintal lagi jika masih mengikuti “kelompok” Romo de Hoog. Ancaman ini menyebabkan sejumlah katekumen mengundurkan diri. Meski demikian, Romo de Hoog tetap tenang dan sabar dalam menjalani tugas perutusannya.

Di tengah kendala tersebut, rencana pembangunan gereja masih tetap berjalan. Pada akhir 1926, gereja dan pastoran baru mulai dibangun. Secara bergotong royong warga mengumpulkan bahan-bahan bangunan seperti batu sungai, batu bata, semen merah, pasir, dan lain sebagainya. Batu bata diperlukan untuk membangun tempat menaruh Sakramen Mahakudus, supaya aman. Pembangunan ini juga melibatkan warga sekitar yang tidak beragama Katolik. Hingga akhirnya, pada bulan Oktober 1927 gereja selesai dibangun.

Bangunan gereja ini berukuran 7 x 17 meter persegi dan mampu menampung 600 orang, jika semua duduk di tikar, namun biasanya ada umat yang duduk pada bangku di bagian belakang. Bangunan gereja ini membujur timur-barat, dengan posisi altar ada di barat. (Posisi gereja lama ada di pendopo yang sekarang, dengan altar ada di sebelah utara sayap barat. Sisa-sisa bentuk altar ikut dirobohkan ketika panti paroki yang baru dibangun.)

Pemberkatan bangunan gereja dilaksanakan pada 14 Oktober 1927 oleh Pater Adrianus van Kalken SY, Superior S.J. di Jakarta. Pemberkatan gereja dilakukan secara sederhana dan dihadiri umat kurang dari 200 orang. Ini dilakukan untuk menghindari konflik dengan kelompok yang tidak senang dengan perkembangan umat Katolik di Sedayu. Dalam kotbahnya, Pater van Kalken menghimbau agar umat Katolik di Sedayu selalu ingat atas anugerah Sakramen Mahakudus. Ia juga mengajak agar umat selalu mengunjungi “Sahabat yang Setia” itu.

Di Paroki kita, ulang tahun Paroki mengacu pada tanggal tersebut, 14 Oktober, dengan pemahaman bahwa yang kita peringati bukan semata bangunannya saja, melainkan fungsi dari bangunan tersebut, yaitu sebagai tempat bagi paguyuban umat Katolik di Sedayu. Namun secara resmi, sejarah sebuah Gereja mengacu pada keberadaan buku baptis paroki tersebut. Data pada situs keuskupan menunjukkan bahwa buku baptis Paroki Sedayu dimulai pada 9 Januari 1930. Sebelum memiliki buku baptis, umat pertama Paroki Sedayu dicatat pada buku baptis Paroki Bintaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *