Loading...
BKSN

RENUNGAN BKSN PERTEMUAN PERTAMA: “YESUS SAHABAT BAGI MEREKA YANG PUTUS ASA”

Dalam pertemuan pertama, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari Injil Matius (Mat. 14:22-33) mengenai Yesus yang mendatangi para murid-Nya di tengah danau Galilea. Saat itu, mereka sangat lelah dan nyaris putus asa karena sudah tidak sanggup melawan amukan angin sakal di danau itu.

Yesus datang dan hadir untuk memberi pertolongan dan peneguhan iman bagi mereka. Kehadiran Yesus di tengah para murid bukan hanya menghentikan angin sakal yang mengancam nyawa mereka, melainkan juga memberi ketenangan hati  bagi para murid-Nya. Perikop ini menegaskan kebenaran: Jika kita percaya  bahwa Tuhan senantiasa hadir dan menolong kita dalam kesulitan dan penderitaan, dalam keputusaasaan dan kehilangan semangat hidup, hati kita akan menjadi tenang dan damai. Di sini, Yesus ditampilkan sebagai sahabat yang  hadir dan  menguatkan mereka yang putus asa.

Kisah Hidup

Andi menjalani akhir masa kuliahnya. Tinggal beberapa kali konsultasi, skripsinya akan selesai. Gelar sarjana sudah di depan mata. Namun, tiba tiba terdengar cerita yang tak mengenakkan tentang ayahnya. Ada yang mengatakan bahwa ayahnya berselingkuh. Keadaan menjadi sulitnya karena ibunya seorang yang temperamental. Tentu keadaan keluarga menjadi kurang kondusif bagi Andi.

Lama kelamaan Andi mulai goyah. Apakah ia akan tetap mengejar pendadaran semester ini, atau mundur semester depan atau mundur lagi entah sampai kapan. Semangat juangnya mulai terkikis. Ia mulai enggan menyentuh skripsinya. Sudah hampir sebulan ia tidak menjalani bimbingan skripsi. Padahal, dulu ia termasuk rajin bimbingan skripsi.

Kebetulan di lingkungannya ada biara suster. Andi dan teman-teman muda sering berdinamika bersama para suster tersebut. Seorang suster yang cukup akrab dengan Andi prihatin mendengar semangat Andi dalam menyelesaikan pendidikan mengendur.

“Kamu harus fokus menyelesaikan kuliah. Selangkah lagi kamu akan menjadi sarjana. Jangan sia-siakan kesempatan ini,” kata suster itu.

“Untuk apa gelar sarjana, jika keluargaku amburadul. Aku merasa sudah tidak dihargai lagi,” kata Andi.

“Hidup memang tidak mudah, penuh perjuangan. Jika kamu tidak kuat, mintalah kekuatan kepada Tuhan. Berdoalah. Tuhan pasti mengabulkan apa yang kamu minta. Dan aku berjanji akan membantumu lewat doa-doaku,” kata suster.

“Doa? Untuk apa berdoa? Tuhan tidak pernah mendengarkan doaku. Lihatlah kedua orang tuaku, yang katanya pernikahan sehidup semati, tiap hari hanya perang mulut. Padahal mereka setiap hari berdoa,” kata Andi dengan emosi. Andi mulai putus asa terhadap situasi yang dihadapinya.

Mendengar jawaban itu, suster diam dan mengundurkan diri. Hari berikutnya, setiap sore suster mengirim pesan kepada Andi yang mengingatkan dirinya untuk berdoa.

“Untuk apa berdoa???” begitu balasan Andi.

“Cobalah dan kamu akan tahu jawabnya,” begitu balas suster.

Pesan suster itu lama-lama terngiang di telinga Andi. Semula ia ragu. Apa iya Tuhan akan menolongnya. Seharian Andi hanya rebahan di tempat tidur. Benarkah Tuhan akan menolongnya? Pertanyaan itu terus mengusik hatinya sampai tengah malam. Namun, bagaimana jika suster benar Tuhan akan menolongnya, jika ia bersedia minta melalui doa.

Ada sebersit harapan yang muncul di hati Andi. Ia mulai berdoa agar kedua orang tuanya bisa berdamai. Atau paling tidak agar ia bisa menyelesaikan pendidikannya. Tiga hari kemudian, Andi merasa jenuh tiduran selama belasan jam setiap hari. Ia duduk di kursi dan mendapati bendelan skripsi di hadapannya di atas meja. Ia mulai membuka bendelan skripsi itu dan membaca satu halaman di tengah. Entah mengapa ia merasa bahwa skripsi harus ia selesaikan semester ini.

Pertanyaan

  1. Apa yang menjadi keinginan Andi di awal kisah?
  2. Apakah keluarga memberikan dukungan yang memadahi untuk Andi dalam mewujudkan keinginan Andi?
  3. Apa dampak kondisi keluarga terhadap Andi?
  4. Siapa yang membantu Andi untuk menemukan solusi?
  5. Bagaimana solusi tersebut bisa membantu Andi?

Bacaan Kitab Suci: Matius 14:22-33

Renungan Singkat

Kisah mukjizat ini tak hanya menceritakan bagaimana Yesus berjalan di atas air, tetapi juga berbicara tentang bagaimana para murid Yesus harus bereaksi dan bersikap ketika mereka mengalami kesulitan dan tantangan dalam hidup. Bersikap tenang dan selalu percaya kepada Yesus adalah kuncinya. Sebaliknya, ketakutan, kekhawatiran, dan kurangnya iman menjadi sebab mendasar mengapa murid-murid Yesus gagal mengatasi persoalan dalam hidup mereka.

Dalam kisah ini, Petrus sebagai representasi para murid Yesus menampilkan gambaran murid yang takut dan kurang iman. Namun, pada saat yang sama, kehadiran Yesus menyelamatkan dan menghindarkan Petrus dari bencana yang lebih dalam.

Doa

Tuhan, kami menyadari bahwa kami ini adalah ciptaan yang lemah. Meski kami sering memegahkan diri, tetapi tanpa-Mu kami adalah makhluk yang rapuh.

Tuhan, aku ingin agar Engkau menjadi sahabatku. Sahabat yang selalu bersamaku dalam suka dan duka. Sahabat yang mau mengampuni jika diriku keras kepala dan membandel. Sahabat yang sabar menuntunku ketika aku belum juga mengerti kehendak-Mu. Sahabat yang menunjukkan jalan yang benar ketika aku berada di persimpangan. Sahabat yang menguatkan diriku jika aku sedang mengalami kebimbangan.

Tuhan, aku tahu bahwa Engka Maha Pengampun. Namun, ingatkan aku, Tuhan, untuk selalu rendah hati dan bersedia datang kepada-Mu untuk memohon rahmat pengampunan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *