RENCANA PEMBANGUNAN GEREJA SEDAYU – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

RENCANA PEMBANGUNAN GEREJA SEDAYU

Panitia Persiapan Pembangunan Gereja St. Theresia Sedayu telah dilantik pada hari Minggu, 30 Oktober 2016, di gereja St. Theresia Sedayu. Pelantikan pada misa sore hari ini dilaksanakan oleh Romo Y. Triwidianto, Pr. Panitia ini disebut sebagai panitia persiapan pembangunan karena bertugas mempersiapkan proses pembangunan. Persiapan meliputi penyelesaian desain gereja, sosialisasi, dan menggalang dana untuk pembangunan gereja.

Bagi sebagian umat mungkin akan bertanya, mengapa perlu dibangun, bukankah gereja Sedayu masih kuat. Gereja St. Theresia Sedayu memang nampak masih kuat. Namun jika hujan deras menerpa, akan kelihatan bahwa gereja ini sudah mengalami banyak kerusakan pada bagian atap.

Bangunan Gereja Sedayu dibuat pada tahun 1980, dan selama lebih dari 35 tahun belum pernah dilakukan renovasi besar-besaran. Perbaikan-perbaikan memang pernah dilakukan pada bagian atap, namun sifatnya hanya tambal sulam. Menurut perkiraan, konstruksi atap hanya akan bertahan sekitar lima tahun lagi. Oleh karena itu sudah sewajarnya bila mulai tahun 2016 ini sudah dipikirkan dan direncanakan secara lebih serius bagaimana pelaksanaan pembangunan gereja nanti.

Sebenarnya gagasan ini sudah berproses semenjak akhir masa tugas Romo Y. Sunu Siswoyo, Pr. Dewan Harian kemudian menunjuk LPPM UAJY sebagai pihak yang akan mengerjakan tata letak kompleks gereja dan desain gereja. Untuk rencana induk (master plan) tata letak sudah disetujui, sedangkan desain bangunan gereja prosesnya lebih panjang. Desain pertama disodorkan oleh LPPM, mengadopsi kebutuhan akan sirkulasi udara, bentuknya tinggi dan memanjang.

Karena bentuk ini mengubah secara total bangunan gereja, maka Dewan Harian minta dibuat lagi desain kedua, yang mengadopsi konsep bentuk joglo dan keterbukaan secara fisik. Desain kedua memiliki bentuk joglo dan pendopo, namun namun ukurannya diperluas ke arah utara. Desain ini bisa diterima karena masih mempertahankan bentuk joglo. Selain itu, juga mengadopsi kebutuhan luasan tempat ibadah.

Untuk kebutuhan anggaran, jika akan dilaksanakan tiga atau empat tahun ke depan, dengan memperhatikan kenaikan kenaikan harga material bangunan, maka diperlukan sekitar enam sampai tujuh milyar rupiah. Anggaran sebanyak ini diharapkan bisa dipenuhi dari sumbangan umat paroki dan sumbangan warga paroki yang ada di perantauan.

(Disarikan dari pernyataan Romo Y. Triwidianto, Pr dalam beberapa rapat panitia.)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *