Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/u5848999/public_html/parokisedayu/wp-includes/script-loader.php on line 707

Deprecated: Unparenthesized `a ? b : c ? d : e` is deprecated. Use either `(a ? b : c) ? d : e` or `a ? b : (c ? d : e)` in /home/u5848999/public_html/parokisedayu/wp-content/plugins/jetpack/modules/shortcodes/soundcloud.php on line 167

Deprecated: Function get_magic_quotes_gpc() is deprecated in /home/u5848999/public_html/parokisedayu/wp-includes/load.php on line 656

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u5848999/public_html/parokisedayu/wp-includes/theme.php on line 2245

Deprecated: Function get_magic_quotes_gpc() is deprecated in /home/u5848999/public_html/parokisedayu/wp-includes/formatting.php on line 4382
PERAYAAN PASKAH DAN PERSIAPANNYA – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
ArtikelKatekese Iman

PERAYAAN PASKAH DAN PERSIAPANNYA

Dari Congregatio Pro Cultu Divino 16 Januari 1988-sebuah ringkasan.

Tata Perayaan Malam Paskah dan seluruh Pekan Suci yang telah diperbaharui Paus Pius XII pada tahun 1951, disambut dengan gembira oleh semua Gereja Ritus Latin. Pada gilirannya Konsili Vatikan II berulang-ulang, terutama dalam Konstitusi tentang liturgi suci, menempatkan misteri Paskah Kristus, sesuai dengan tradisi, sebagai pusat, dan menekankan bahwa semua sakramen dan sakramentali memperoleh daya kekuatan daripadanya. Seperti setiap pekan mempunyai awal dan puncaknya dalam perayaan Minggu, yang selalu mempunyai ciri Paskah, demikian pula seluruh Tahun Gereja mempunyai puncaknya yang gemilang pada “ketiga hari Paskah Penderitaan, Wafat, dan Kebangkitan Tuhan”, yang dipersiapkan dalam masa tobat Prapaskah dan dilanjutkan dengan gembira selama 50 hari masa Paskah.

Masa Prapaskah

Masa Prapaskah tahunan adalah masa rahmat, karena kita mendaki Gunung Suci Hari Raya Paskah. Masa Prapaskah mempunyai tugas ganda, mempersiapkan para katekumen dan kaum beriman untuk perayaan misteri Paskah. Para calon dihantar oleh perayaan pendaftaran, oleh perayaan tobat dan pengajaran untuk menghayati sakramen-sakramen inisiasi; kaum beriman harus lebih rajin mendengarkan Sabda Allah, dan berdoa, dan mempersiapkan diri dengan tobat dan pembaharuan janji baptis.

  1. a) Mengenai perayaan inisiasi ke dalam Gereja

Seluruh inisiasi ke dalam Gereja mempunyai cirri Paskah, karena merupakan partisipasi sakramental pertama dalam Wafat dan Kebangkitan Kristus. Maka dari itu, masa tobat Paskah harus dimanfaatkan secara intensif untuk persiapan rohani para calon, terutama dengan perayaan tobat dan “penyerahan”. Karena alasan yang sama, Malam Paskah harus merupakan waktu normal untuk sakramen-sakramen inisiasi. Jemaat yang tidak mempunyai calon baptis, janganlah mengabaikan doa bagi mereka yang pada Malam Paskah mendatang akan menerima sakramen-sakramen inisiasi ke dalam Gereja di tempat lain. Jemaat perlu merenungkan apa makna pembaharuan janji baptis bagi mereka, yang diundang untuk menjalaninya pada akhir masa Prapaskah 40 hari itu.

  1. b) Perayaan Masa Prapaskah sendiri

Hari-hari Minggu dalam Masa Prapaskah harus diutamakan di atas semua Hari Raya Tuhan, dan semua Hari Raya yang jatuh pada salah satu dari Minggu-minggu ini, dipindah ke hari Sabtu sebelumya. Hari-hari biasa Masa Tobat Prapaskah harus diutamakan di atas hari peringatan wajib. Dalam masa itu hendaknya mengedepankan aneka aspek Baptis dan Sakramen-sakramen lain dan kerahiman Allah. Kaum beriman hendaknya sering ikut merayakan Ekaristi pada hari biasa, dan di mana hal itu tidak mungkin, sekurang-kurangnya membaca bacaan liturgi Misa hari itu, sendiri atau dalam keluarga.

Masa Tobat Prapaskah mempunyai ciri tobat. Dalam katekese hendaknya ditegaskan kepada kaum beriman, beserta akibat-akibat sosial dosa, hakikat tobat, yang menyangkal dosa sejauh merupakan penghinaan terhadap Allah. Keutamaan tobat dan pelaksanaan praktisnya merupakan bagian-bagian yang perlu dalam persiapan Paskah; dari pertobatan hati keluar praksis lahiriah tobat, baik bagi orang kristiani perorangan, maupun bagi seluruh jemaat; praksis tobat ini haruslah sesuai dengan semangat tobat yang dinyatakan Injil dengan jelas, dan dapat dimanfaatkan demi para saudara yang menderita kekurangan. Dalam pada itu, harus diingat perlunya kesesuaian dengan situasi dan kehidupan zaman kita. Peran Gereja dalam peristiwa tobat harus diperhatikan dan doa bagi  pendosa ditekankan; hal ini dapat dilakukan dengan sering memasukkan doa itu ke dalam Doa Umat.

Kaum beriman harus diingatkan untuk lebih rajin dan dengan manfaat yang lebih besar mengambil bagian dalam ibadat Masa Prapaskah dan perayaan tobat. Mereka terutama hendaknya diundang, sesuai dengan peraturan dan tradisi Gereja, untuk menerima Sakramen Tobat di masa ini, agar mereka dapat merayakan misteri Paskah dengan hati murni. Dalam pada itu, amat layak merayakan dalam masa Prapaskah, Sakramen Tobat, sebagai perayaan bersama rekonsiliasi dengan pengakuan dan absolusi pribadi, seperti disediakan Ritus (Perayaan Tobat).

Aneka kegiatan Masa Prapaskah harus juga diarahkan untuk lebih menerangi kehidupan Gereja setempat dan memajukannya. Maka dari itu, amat dianjurkan, agar Gereja-gereja setempat, mengadakan perayaan perhentian Jalan Salib yang sesuai, ziarah makam para Kudus dan tempat ziarah yang ada di Keuskupan. Umat diharapakan mengembankan pula doa bersama dalam keluarga atau lingkungan, retret dan rekoleksi.

Dalam Masa Prapaskah, tak diperkenankan menghias altar dengan bunga-bunga, bunyi alat-alat musik hanya untuk mengiringi nyanyian, karena keduanya menggarisbawahi ciri tobat masa ini. Sejak awal Masa Prapaskah sampai Malam Paskah, “Alleluya” tidak dipakai dalam semua ibadat, juga pada Hari Raya dan Pesta.Nyanyian yang dipakai dalam ibadat, terutama Perayaan Ekaristi, tetapi juga dalam kebaktian lain, harus disesuaikan dengan masa ini dan sedapat mungkin juga sesuai dengan teks liturgi. Kebaktian rakyat yang sesuai dengan Masa Prapaskah, misalnya Jalan Salib, hendaknya dipelihara dan diresapi dengan semangat liturgi, sehingga kaum beriman dapat dihantar lebih mudah ke misteri Paskah Kristus.

  1. c) Hari-hari Khusus Masa Prapaskah

Pada Rabu Abu, kaum beriman, dengan menerima abu, memasuki masa yang diperuntukkan bagi pemurnian jiwa. Tanda tobat yang berasal dari tradisi alkitabiah dan melalui tradisi Gereja sampai kepada kita, berarti bahwa pendosa yang mengakukan dosanya terbuka di hadapan Allah, dengan demikian, ia mengungkapkan kemauannya untuk bertobat, dibimbing pengharapan agar Tuhan berbelaskasih kepadanya. Dengan tanda ini, mulailah jalan tobat yang bertujuan menerima Sakramen Tobat sebelum Hari Raya Paskah. Pemberkatan dan pembagian abu dilaksanakan dalam Misa atau di luarnya, bila dalam Misa upacara abu dimulai dengan ibadat Sabda dan menutupnya dengan doa umat. Rabu Abu harus dijalani sebagai hari tobat dalam seluruh Gereja dengan pantang dan puasa.

Hari Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa suci terhormat 40 hari. Uskup harus mengadakan perayaan para pendaftaran para pelamar(katekumen) dalam gereja katedral atau juga dalam gereja lain, sesuai dengan kebutuhan pastoral. Pada Minggu Prapaskah ke-4 (Laetare) dan pada Hari Raya dan Pesta, orgel dan alat-alat musik lain dapat dimainkan dan altar dapat dihias dengan bunga-bunga. Kebiasaan memberi selubung pada salib-salib  dalam gereja sejak Minggu Prapaskah ke-5 dapat dipertahankan bila diperintahkan demikian oleh Konferensi Waligereja. Salib-salib tetap terselubung sampai akhir liturgi Jumat Agung, tetapi gambar-gambar sampai awal perayaan Malam Paskah.

Pekan Suci

Dalam Pekan Suci Gereja merayakan misteri keselamatan yang diwujudkan Kristus dalam hari-hari terakhir hidup-Nya, sejak Ia sebagai Al-Masih memasuki Yerusalem. Triduum Paskah diawali dengan Misa sore Perjamuan Tuhan, dilanjutkan dengan Jumat Agung dengan perayaan Sengsara Tuhan dan Sabtu Suci, untuk mencapai puncaknya pada Malam Paskah, dan diakhiri dengan Vesper Paskah hari Minggu. “Hari-hari pada Pekan Suci, dari Senin hingga Kamis harus diutamakan daripada semua perayaan lain”. (Baptis dan Penguatan tidak boleh diberikan pada hari-hari ini).

Minggu Palma

Pekan Suci dimulai pada Minggu Palma yang menghubungkan perayaan kemenangan Kristus sebagai Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya. Hubungan antara kedua aspek dari misteri Paskah harus ditampilkan dan dijelaskan dalam perayaan dan katekese. Sejak dahulu masuknya Kristus ke Yerusalem diperingati dalam prosesi meriah. Dengan ini kaum kristiani menjalani peristiwa ini dan menyertai Tuhan, seperti anak-anak Ibrani yang menyongsong-Nya dan menyerukan “HOSANA”.

Dalam setiap gereja hanya boleh diadakan satu kali prosesi, sebelum Misa, yang dihadiri umat. Boleh misa sore, Sabtu atau Minggu. Umat berkumpul di halaman atau di samping gereja atau di tempat lain yang pantas di luar gereja, yang menjadi prosesi, dan membawa ranting palma atau ranting lain dan mendahului umat. Ranting-ranting itu diberkati untuk dibawa dalam prosesi. Umat beriman dapat menyimpan ranting-ranting itu di rumah: mereka diingatkan akan kemenangan Kristus yang mereka rayakan dalam prosesi Palma. Selama prosesi hendaknya, dinyanyikan oleh paduan suara dan umat nyanyian yang disediakan dalam buku Misa seperti Mazmur 24(23) dan 47 (46), atau nyanyian lain yang menghormati Kristus Raja.

Kisah sengsara Tuhan dibawakan dengan meriah. Dianjurkan untuk membacakan atau menyanyikannya secara tradisional oleh tiga orang, Peran Yesus diperankan oleh imam atau diakon, kecuali jika dinyanyikan bisa dibawakan oleh solis (penyanyi pasio). Pada pewartaan kisa sengsara ini tidak dinyalakan lilin, dupa, tidak ada salam bagi umat dan penandaan buku.hanya para pembaca sebelumnya mohon berkat imam. Setelah pembacaan kisah sengsara harus diadakan homily meskipun singkat.

Kamis Putih (Misa Perjamuan Malam Terakhir)

Dengan Misa petang Kamis Putih “ Gereja mengawali Trihari Suci Paskah dan memperingati Perjamuan Malam Terakhir; pada malam Kristus dihianati. Karena cinta akan orang-orang-Nya yang didunia, Ia mempersembahkan Tubuh dan DarahNya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para rasul sebagai makanan dan minuman dan menugaskan mereka serta para penggantinya dalam imamat juga mempersembahkan sebagai kurban. Dalam perayaan ini, tabernakel harus kosong sama sekali. Hosti untuk komuni umat beriman harus dikonsekrir dalam perayaan kurban ini dan jumlahnya harus cukup juga untuk komuni Jumat Agung. Untuk menyimpan Sakramen Mahakudus harus disiapkan tempat khusus dan dihias dengan pantas yang mengundang untuk doa dan meditasi. Dianjurkan suatu kesederhanaan yang sesuai hari-hari ini.

Pada perayaan ini, Gloria/Kemuliaan dinyanyikan dan lonceng-lonceng dibunyikan. Setelah itu hening sampai Gloria di malam Paskah. Selama waktu itu orgel dan alat music lain hanya boleh untuk mendukung nyanyian.(sederhana tidak meriah). Karena mulai masuk pada kisah sengsara. Pada hari ini juga diadakan tradisi pembasuhan kaki pada pria-pria terpilih, maksudnya adalah untuk menunjukkan pelayanan dan kasih Kristus yang akan datang, “tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Untuk persembahan dapat diadakan sumbangan bagi kaum miskin, terutama bila dikumpulkan selama masa prapaskah sebagai buah mati raga. Amat layaklah pada hari ini para pelayan komuni membawakan atau membagikan komuni pada yang sakit agar mereka ini lebih erat dihubungkan dengan Gereja yang merayakan.

Setelah doa penutup diadakan prosesi Sakramen Mahakudus. Sakramen Mahakudus dibawa melaui gereja ke tempat penyimpanan. Pembawa salib terdepan diikuti pembawa lilin dan dupa; Madah “Pange lingua” atau nyanyian ekaristis lain dinyanyikan. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak dilakukan jika keesokkan harinya pada Jumat Agung tidak diadakan jalan salib. Sakramen Mahakudus ditempatkan dalam tabernakel yang kemudian ditutup (jika tabernakel tidak didalam gereja). Pentahtaan dengan mosntran tidak diperkenankan. Tempat penyimpanan Sakramen Mahakudus tidak boleh berbentuk makam suci; hendaknya juga dihindari ungkapan makam suci karena tempat penyimpanan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemakaman Tuhan, melainkan untuk menyimpan hosti suci untuk komuni Jumat Agung.

Umat beriman hendaknya setelah Misa Kamis Putih mengadakan adorasi (tuguran) malam di hadapan Sakramen Mahakudus dalam gereja. Pada saat itu, umat dapat merenungkan sebagian dari Injil Yohanes(bab 13-17). Adorasi ini setelah tengah malam tanpa upacara, karena hari sengsara Tuhan sudah dimulai. (adorasi pribadi). Setelah misa altar ditutupi. Di depan gambar para kudus tidak boleh dinyalakan lilin.

Jumat Agung

Pada hari ini, waktu Kristus, Sang Domba kurban kita dikurbankan. Gereja merenungkan sengsara Tuhan Mempelainya dan menyembah Salib-Nya. Gereja juga merenungkan asal-usulnya dari luka sisi Kristus yang wafat pada salib dan berdoa bagi keselamatan seluruh dunia.  Pada hari ini Gereja tidak merayakan ekaristi (misa). Komuni suci hanya diberikan kepada umat selama perayaan sengsara dan wafat Kristus (Ibadat Jumat Agung). Tetapi mereka yang sakit yang tak dapat mengikuti perayaan ini dapat menerimanya pada setiap saat. Jumat Agung di seluruh Gereja harus dijalani sebagai hari tobat, dan puasa serta pantang diwajibkan. Perayaan-perayaan sakramen pada hari ini juga dilarang keras, kecuali sakramen tobat dan pengurapan orang sakit. Jika ada upacara pemakaman diadakan tanpa nyanyian dan iringan musik. Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan siang menjelang jam 15.00. Karena alasan pastoral dapat ditentukan waktu lain yang memudahkan umat berkumpul, misalnya langsung setelah siang atau petang tetapi tidak sesudah jam 21.00. Tata perayaan Jumat Agung yang berasal dari tradisi kuno Gereja yakni ibadat Sabda, penghormatan salib, perayaan komuni) harus diadakan dengan tepat dan setia, dan tidak boleh diubah sesukanya. Imam dan para asisten pergi ke altar tanpa nyanyian kemudian menelungkupkan diri sebagai tanda hati yang pantas bagi manusia dan mengungkapkan kedukaan Gereja. Umat berdiri selama masuknya imam dan para asistennya dan setelahnya berlutut dan hening sejenak dalam doa (saat imam dan para asistennya menelungkup).

Bacaan (sabda Tuhan) yang tersedia harus dibacakan lengkap. Nyanyian tanggapan dan nyanyian sebelum Injil dinyanyikan seperti biasanya. Kisah sengsara menurut Yohanes (passio) dinyanyikan atau dibacakan seperti minggu palma. Setelah kisah sengsara ada homily meski singkat yang diakhiri dengan keheningan doa sejenak. Kemudian dilanjutkan dengan doa umat meriah oleh imam. Imam dapat memilih jumlah doa sesuai dengan keadaan setempat tanpa mengubah urutan.

Untuk pengangkatan salib hendaknya cukup besar dan indah. Ritus ini hendaknya dibawakan dengan meriah dengan misteri penebusan kita: baik seruan pada pengangkatan salib maupun umat harus dinyanyikan, dan keheningan penuh hormat setelah ketiga kali, berlutut jangan diabaikan, sementara imam sambil berdiri menjunjung salib. Salib harus disajikan kepada setiap umat beriman untuk dihormati, Karena penghormatan pribadi adalah unsure hakiki perayaan ini; hanya bila hadir jemaat amat besar, ritus penghormatan bersama dapat dilaksanakan. Pada penghormatan salib dinyanyikan antiphon atau madah yang menginngatkan sejarah keselamatan dari Allah atau nyanyian yang sesuai. Setelah selesai penghormatan salib, imam menyanyikan pengantar doa Bapa Kami, yang kemudian dinyanyikan oleh semua. Salam damai tak dipakai. Sementara komuni dibagikan dapat dinyanyikan mazmur 22(21) atau nyanyian lain yang sesuai. Setelah pembagian komuni, bejana/sibori dengan hosti yang lebih dibawa ke tempat penyimpanan yang disediakan bukan ditabernakel gereja.

Sabtu Paskah/Sabtu Suci/ Sabtu Sepi

Pada sabtu paskah Gereja berhenti di makam Tuhan, merenungkan penderitaan, wafat dan masuknya ke dunia kematian dan menantikan kebangkitanNya dengan puasa dan doa. Maka situasi umum adalah keheningan /sepi. Pada sabtu pagi-siang tidak ada perayaan ekaristi, sedangkan komuni dibagikan hanya sebagai bekal suci. Perayaan semua sakramen, kecuali sakramen tobat, pada hari ini tidak dibenarkan. Dalam Gereja dapat dipasang gambar Kristus yang menunjukkan Misteri Sabtu Paskah untuk dihormati umat dan diharapkan tidak ada keramaian di dalam gereja.

Hari Raya Kebangkitan Tuhan/ Paskah

  1. Malam paskah.

Malam tirakatan bagi Tuhan, mengenangkan malam kudus waktu Tuhan bangkit dan karenanya dipandang sebagai “induk segala tirakatan”. Pada malam ini Gereja dalam doa menantikan kebangkitan Tuhan dan merayakannya dengan sakramen Baptis, Penguatan dan Ekaristi. Berbeda dengan Jumat Agung yang memperingati wafat Yesus di depan publik, Paskah berkisar pada kesaksian pengalaman religius sejumlah orang mengenai kebangkitan Kristus yang memang menjadi dasar iman kita dan awal gerakan baru, namun sulit dibayangkan daya tangkap manusia. Misteri Paskah kita terima dalam iman. Sejak semula Gereja menjalani Paskah tahunan, hari raya tertinggi, dalam perayaan malam. Karena kebangkitan Kristus adalah dasar iman kita dan harapan kita; oleh baptis dan krisma kita dimasukkan ke dalam misteri Paskah: mati bersama Dia, kita dimakamkan bersama Dia, dibangkitkan bersama Dia dan akan berkuasa bersama Dia juga. Tirakatan ini juga ditujukan kepada penantian kedatangan Tuhan kembali. Karena malam paskah sebagai perayaan malam maka seluruh perayaan malam Paskah dilaksanakan diwaktu malam (waktu hari sudah gelap): tak boleh diadakan sebelum gelap atau berakhir setelah minggu Fajar. Peraturan ini harus ditetapi secara ketat. Penyelewengan dan kebiasaan terjadi di sana-sini, yakni merayakan malam paskah pada waktu biasayanya diadakan misa sabtu sore tidak dibenarkan. Alasan yang kadang-kadang diajukan untuk memajukan waktu perayaan malam paskah, misalnya kerawanan public atau menyangkut acara macam-macam.

  1. Struktur Perayaan Malam Paskah
  2. Perayaan cahaya dan madah paskah

Upacara cahaya dilakukan di luar Gereja. Lilin Paskah adalah lilin yang baru dan hanya boleh dipakai satu lilin Paskah,cukup besar supaya menjadi tanda bagi KRistus yang adalah cahaya dunia. Lilin Paskah diberkati dengan kata dan tanda yang ditetapkan dalam buku misa. Dalam upacara cahaya.. cahaya hanya dari lilin Paskah. Setelah prosesi lilin paskah sampai ke depan altar, cahaya lilin paskah dapat dibagikan kepada lilin-lilin yang dibawa umat, sementara cahaya listrik masih belum dinyalakan. Madah Pujian Paskah dapat dinyanyikan oleh Diakon atau seorang penyanyi (solis).

  1. Perayaan sabda tentang karya-karya agung Allah

Sabda Tuhan yang dibacakan menggambarkan karya agung keselamatan Allah dari para nabi sampai puncaknya Yesus Kristus. Ada 7 bacaan perjanjian lama dan 2 bacaan dari perjanjian baru. Bacaan ini harusnya dibacakan semua agar terpelihara cirri tirakatan yang memerlukan waktu yang lebih lama. Tetapi bila ada pastoral untuk mengurangi jumlah bacaan haruslah sekurang-kurangnya dipakai 3 bacaan dari perjanjian lama, yakni kitab Taurat dan nabi-nabi dan harus ada bacaan dari kitab Keluaran bab 14. Setelah Perjanjian Lama dinyanyikan Gloria dan lonceng-lonceng dibunyikan. Lalu diikuti doa pembuka dan bacaan-bacaan perjanjian baru. Setelah bacaan epistola dari surat rasul Paulus imam menyanyikan allelluya tiga kali dan setiap kali lebih tinggi dan seluruh umat berdiri sambil mengulangi allelluya. Bila perlu alleluia dinyanyikan oleh pemazmur atau penyanyi. Injil diikuti homily meskipun pendek tidak boleh diabaikan.

  1. Perayaan baptis

Paskah Kristus dan Paskah kita kini dirayakan dalam sakramen. Hal ini diungkapkan sepenuhnya dalam gereja yang ada baptisan dan pemberkatan air baptis. Jika tidak ada baptisan dan pemberkatan air baptis, air diberkati untuk mengenang baptis dan untuk memerciki umat. Setelah itu diadakan pembaruan janji baptis. Umat berdiri memegang lilin menyala dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Lalu mereka diperciki air suci sebagai pengenangan akan baptis yang telah mereka terima dengan diriingi lagu dengan cirri baptis (jika ada baptisan, percikan diberikan setelah baptisan)

  1. Perayaan ekaristi.

Perayaan ekaristi menjadi puncak malam Paskah karena ekaristi adalah sakramen Paskah, kenangan akan kurban salib Kristus, kehadiran Tuhan yang Bangkit, penyelesaian inisiasi ke dalam Gereja dan antisipasi pesta Paskah abadi. Harus diusahakan agar perayaan ekaristi jangan cepat-cepat dan tergesa-gesa, semua ritus dan perkataan harus diungkapkan dengan tegas dan jelas. Sebaiknya baptisan baru dilibatkan dalam doa umat dan persiapan persembahan sebagai kaum beriman yang mewujudkan imamat kerajaan yang baru saja diterima.

 

  1. Minggu Paskah

Misa minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah. Sebagai tobat dianjurkan hari ini pemercikan dengan air, yang diberkati pada malam Paskah dengan diringi lagu Vidi aquam (Aku melihat air) atau nyanyian lain dengan ciri baptis. Dengan air berkat ini, tempat air pada pintu gereja diisi. Lilin paskah ditempatkan di sisi mimbar atau di sisi altar dan ditempatkan selama masa paskah yang berakhir pada hari raya pentakosta. Di luar masa paskah lilin paskah tidak boleh dinyalakan dan juga tidak ditinggal di altar atau mimbar. Selama masa paskah, para baptisan baru mengikuti masa mistagogi sampai pentakosta.

 

 

Doa masa PraPaskah-Panitia

Allah Bapa yang maha kuasa, kami bersyukur kepada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Kami juga bersyukur atas kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami untuk menjadi Panitia Paskah dan persiapannya di paroki kami Santa Theresia Sedayu ini. Lewat Masa Prapaskah dan tugas pelayanan ini. Engkau menginginkan kami untuk menyadari segala kebaikan-Mu. Selama Masa Prapaskah ini Engkau melimpahkan rahmat untuk menyegarkan iman kami dan memberi kami kekuatan untuk melaksanakan tugas pelayanan ini sebagai panitia Paskah dengan baik.

Selama masa prapaskah ini, Engkau mengajak kami untuk bertobat, menyesali kekurangan dan dosa-dosa kami. Engkau mendorong kami melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Engkau mengajar kami untuk hidup sederhana, mensyukuri segala anugerah-Mu, dan membantu orang-orang yang menderita serta menjadi garam dan terang dunia. Selama Masa Prapaskah ini Engkau membimbing para calon baptis yang akan bersatu dengan Kami melalui sakramen baptis. Dan sambil mendampingi mereka, kamipun Kauajak menyegarkan rahmat Baptisan yang pernah kami terima dari-Mu. Selama masa prapaskah ini pula, kami para panitia paskah Engkau ajak untuk melakukan tugas pelayanan mempersiapkan paskah sampai pelaksanaannya dengan gembira dan tulus hati diantara aneka kesibukkan kami. Kami sadar bahwa ada godaan-godaan yang bisa menggerogoti semangat pelayanan dan pertobatan kami di masa pra paskah ini: aneka kesibukkan, salah persepsi dan komunikasi, rasa capek, dan lain sebagainya yang bisa membuat kami mudah emosi, malas dan sebagainya. Namun kami yakin dengan pertolongan rahmat-Mu kami selaku panitia paskah dapat menghadapi godaan itu dan bersama-sama sebagai satu saudara dalam Kristus melaksanakan tugas pelayanan ini dengan sebaik-baiknya demi pelayanan kepada seluruh umat di paroki Sedayu ini dan sebagai persembahan demi kemuliaan nama-Mu.

Semoga karena rahmat-MU, yang Kau limpahkah selama Masa Prapaskah ini, kami semakin dikuatkan dalam iman, semakin Suci, semakin bersatu sebagai panita dan dengan umat kesayangan-MU di paroki ini, dan berani meneladani Yesus Putra-MU, yang rela melayani, menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk menyelamatkan kami. Semoga saat perayaan Paskah nanti kami pun layak menerima anugerah keselamatan melalui kebangkitan Yesus Kristus Putra MU. Sebab dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan sepanjang masa (Amin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *