PANGGILAN MELAYANI TUHAN DI LUAR ALTAR – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

PANGGILAN MELAYANI TUHAN DI LUAR ALTAR

Saat ini di Yogyakarta ada banyak kejadian intoleransi. Kejadian-kejadian intoleransi ini, jika tidak segera diselesaikan, akan semakin banyak terjadi. Dan kejadian-kejadian ini paling banyak terjadi di kabupaten Bantul. Sebut saja kasus pengrusakan di rumah Bu Yuni, di Sewon, Bantul, pada bulan Desember 2018. Kasus ini kemudian berhenti  karena pelaku dianggap gila. Demikian kata Anton, anggota Tim Komisi Keadilan dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan DIY, Minggu, 8 September 2019 di Aula Gereja Santa Theresia Sedayu. Kegiatan ini dalam rangka sosialisasi pembentukan Tim Kerja Keadilan dan Keutuhan Ciptaan Paroki St. Theresia Sedayu yang menghadirkan utusan dari tiap lingkungan. Bersama Tim KKPKC Kevikepan DIY, hadir tim KPKC Paroki Kotabaru dan C Lilik Krismantoro dari KKPKC KAS.

Kasus lain yang ditangani oleh Tim KKPKC Kevikepan adalah pemotongan salib makam di Pringgolayan (Januari 2018), penyerangan di Gereja Bedog (Februari 2018) dan kasus pengusiran seniman Katholik di Pleret, Bantul. Meski demikian, KKPKC tidak melulu menangani hal-hal yang terkait beda agama. Ada banyak hal lain yang terkait terganggunya martabat manusia yang ditangani KKPKC. Mungkin ada banyak potensi kasus yang terjadi di lingkungan-lingkungan. Yang harus dipertanyakan adalah: apa yang harus dilakukan ketika kasus atau potensi kasus tersebut ada. Ini merupakan panggilan melayani Tuhan di luar altar.

Agus Sumaryoto dari Tim KKPKC Kevikepan menyebutkan bahwa KKPKC Kevikepan DIY terbentuk 7 Desember 2017. Tim ini tebentuk atas inspirasi Sabda Tuhan tentang memberi makan orang lapar, memberi tumpangan orang asing, memberi pakaian orang yang telanjang dan mengujungi orang yang sakit dan di penjara. Tugas dan fungsi KPKC adalah mendorong terciptanya perdamaian dan keadilan, mendampingi korban untuk mencari kuasa hukum, melakukan perlindungan terhadap saksi dan korban, melakukan peran paralegal dan membantu investigasi.  

Menurut Agus Sumaryoto ada 11 hal yang bisa menyebabkan terjadinya kasus, yaitu jaringan kelompok intoleran, pemukiman eksklusif, radikalisme yang masuk dunia pendidikan, terkikisnya budaya lokal, pembelokan makna budaya lokal untuk melegalkan intoleransi, kesenjangan ekonomi dan gaya hidup, perilaku koruptif, terkikisnya ideologi Pancasila, isu SARA, narkoba dan konflik politik. Untuk tingkat internal lingkungan, ada lima hal yang bisa menjadi potensi, yaitu umat dan tokoh Gereja yang apatis terhadap situasi, umat dan tokoh yang takut bersikap, anggapan bahwa politik itu kotor, rendahnya militansi umat dan berebut untuk tampil.

Lilik dari KKPKC KAS mengatakan bahwa KKPKC muncul setelah Konsili Vatican II. Lembaga ini muncul karena dalam Konsili Vatican II Gereja mendorong kepedulian terhadap empat hal, yaitu keadilan, perdamaian, HAM dan ekologi. Di Indonesia KKPKC muncul tahun 1981. Karena KKPKC ini mencakup lingkup yang luas, maka fokus program yang diambil tergantung tantangan yang ada. Untuk KKPKC di Indonesia berfokus pada kekerasan, intoleransi, lingkungan hidup, perdagangan manusia, HIV/AIDS, dan narkoba. Meski terkesan sebagai lembaga yang bergerak setelah kasus terjadi, namun KKPKC juga mencegah agar tidak ada kasus yang terjadi. Tolok ukur keberhasilan KKPKC adalah jika tidak ada kasus terjadi.  

Beberapa kasus yang menjadi ranah KPKC misalnya yang ditangani Bu Ririn (KKPKC Kevikepan) pencabulan diantara anak SD karena sering menonton video porno di HP ayahnya. Untuk KPKC Kotabaru berfokus pada penanganan sampah plastik. Bu Elis dari KKPKC Kevikepan berpesan pada warga yang tinggal di sekitar Kaliprogo untuk mewaspadai penambangan pasir. Karena di daerah penambangan pasir biasanya terjadi peristiwa yang mengorbankan anak perempuan. Juga perlu diwaspadai penyimpangan-penyimpangan penggunaan media sosial, karena kurang bisa dikontrol oleh orang tua.

Wawan s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *