“NGAMEN” PERDANA DI KARANGPANAS – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

“NGAMEN” PERDANA DI KARANGPANAS

Gereja St. Athanasius Karangpanas, Semarang, merupakan paroki pertama yang terpilih menjadi tempat “ngamen” penggalangan dana pembangunan Gereja St. Theresia Sedayu.

Kami meninggalkan Sedayu hari Sabtu (9/6) sekitar jam 10. Ada lebih dari 70 personel yang terlibat. Personel sejumlah ini merupakan hasil “negosiasi” antara kebutuhan dan keinginan untuk berhemat. Mereka yang berangkat adalah anggota koor, anggota orkes pengiring, tim penjual, pelayan amplop sumbangan, pastur dan tim pendukung lain. Konsepnya adalah kami akan meminta sumbangan yang dimasukkan ke dalam amplop. Kemudian ada juga penggalangan dana dalam bentuk penjualan produk makanan. Kami membawa satu setengah ton salak dan makanan lain.

Kami tiba di Karangpanas sekitar jam 13. Setelah santap siang, kami kemudian melakukan persiapan. Anggota koor melakukan pemanasan dan anggota orkes melakukan persiapan perangkat sound bersama tim sound. Demikian juga dengan pelayan amplop sumbangan dan tim penjual.

ngamen5_optEkaresti Sabtu sore selesai jam 18.45. Sebagian umat langsung menyerbu tiga titik penjualan produk makanan. Meski halaman itu tidak memiliki penerangan yang memadai untuk melakukan transaksi, namun umat tetap antusias dan sabar dalam mengantre.

Ekaresti kedua, Minggu pagi, dimulai jam 5.30. Dalam keremangan pagi kami bersiap. Tim pelayan amplop mengenakan pakaian jawa gaya Yogyakarta. Misa dipimpin oleh Romo Yohanes Triwidianto bersama Romo Suharyono. Ekaresti selesai jam 6.45. Umat segera menyerbu tiga titik penjualan.

ngamen2_opt

ngamen3_optEkaresti ketiga, Minggu pagi, dimulai jam 7.30. Kali ini Romo Yohanes Triwidianto didampingi oleh doa orang pastur, yaitu satu pastur dari Paroki Karangpanas dan Romo Laurentius Sutadi. Romo Laurentius Sutadi adalah pastur asal Paroki Sedayu yang baru saja selesai menjalani perawatan di Rumah Sakit Elisabet, Semarang. Kakak dari Mgr Adrianus Sunarko ini sedang bertugas menjadi Vikjen Keuskupan Ketapang. Setelah semua umat meninggalkan gereja, kami makan pagi bersama. Romo Laurentius Sutadi menyempatkan diri ngobrol sebentar sambil minum teh sebelum “terbang” ke Ketapang.

Minggu siang, kami bersantai. Ada yang mengunjungi saudara, ada yang mengunjungi tempat wisata, ada juga yang tidak bisa kemana-mana karena wajib beristirahat.

Misa Minggu sore dimulai jam 17.30 dipimpin oleh Romo Yohanes Triwidianto didampingi pastur dari Karangpanas. Ekaresti selesai jam 18.40 dan umat segera menghabisi salak yang tersisa. Sayang, ada beberapa umat yang tidak kebagian salak.

ngamen4_optSetelah makan malam dan berkemas, kami berkumpul untuk mengikuti seremoni kecil bersama perwakilan Dewan Paroki Karangpanas. Pada kesempatan tersebut Markoes Padmonegoro melaporkan jumlah dana yang sudah disumbangkan oleh umat paroki Karangpanas. Sementara itu Romo Yohanes Triwidianto mengatakan sempat ada kekhawatiran penurunan omset karena penggeseran jadwal dari bulan Mei ke bulan Juni. Penggeseran ini terkait penunjukan Paroki Karangpanas sebagai penyelenggara Temu Komsos KAS tahun 2018. Namun ternyata penggeseran ini tidak salah karena dana yang terkumpul melebihi target.

Setelah foto bersama, kami meninggalkan Karangpanas sekitar jam 21, dan tiba di Sedayu sekitar jam 23.30.

Terima kasih Karangpanas atas semua yang sudah Anda berikan. Terima kasih Romo Suharyono dan tim konsumsi atas semua pelayanan Anda. Terima kasih tak lupa kami ucapkan kepada saudara- saudari kami umat Paroki Karangpanas dan sekitarnya yang berasal dari Sedayu, termasuk Bruder Hadi, FIC, yang telah menjadi salesman dan saleswoman. Tak lupa, terima kasih kepada saudari kami suster-suster Carmelit Misionaris, “lulusan” biara Sedayu, terutama Suster Emy, yang dengan setia menjadi saleswoman bagi kami. Terima kasih atas persaudaraan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *