MENJADI RASUL AWAM YANG TAHU TUGASNYA – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

MENJADI RASUL AWAM YANG TAHU TUGASNYA

Setiap umat Katholik sebenarnya dipanggil untuk menjadi rasul awam. Dasar dari panggilan ini adalah Kitab Suci, yang berisi perintah Tuhan, dan pembabtisan. Ketika umat dibabtis, ia menerima tugas sebagai imam, nabi dan raja. Menjadi imam berfungsi sebagai pengudusan, menjadi nabi berfungsi membawa pertobatan, dan menjadi raja berfungsi  menjadi pemimpin yang melayani. Demikian kata Agustinus Gandung Sukaryadi, anggota PK4 DIY, Senin (23/9) di Gereja Santa Theresia Sedayu, Bantul. Sarasehan bertema “Peningkatan Pemberdayaan Ketua RT, RW, PKK dan Kepala Desa,” ini diikuti tokoh masyarakat di Paroki St. Theresia Sedayu.

Agustinus Gandung mengatakan bahwa semua orang Katholik sebenarnya didorong untuk berpolitik. Karena dalam Gaudium et Spes dikatakan bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dunia adalah juga kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus. Bahkan Edy Kristanto, OFM., menyebutnya sebagai sakramen politik. Albertus Sugiyopranoto, uskup pribumi pertama Indonesia, mengatakan agar kita tidak membiarkan orang lain menentukan nasib kita, tanpa kita turut serta dalam pembuatan keputusan. Maka Gereja mengenal kerasulan di dalam Gereja dan kerasulan di luar Gereja. Kerasulan di dalam Gereja terkait hal-hal liturgis. Sedang Ekaresti di luar Gereja meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan dan agama.

Tantangan nyata yang dihadapi saat ini adalah isu penggantian ideologi Pancasila dan bentuk negara NKRI, masalah korupsi, tarik menarik budaya timur-barat, radikalisme di semua lini, hoak dan pemberdayaan dana desa. Agustinus Gandung mengajak agar umat yang hadir untuk tidak ragu dalam mempertahankan Pancasila, karena tidak ada pertentangan antara Pancasila dan 5 pilar gereja (yaitu liturgia, koinonia, kerygma, martyrua dan diakonia.) Lima pilar Gereja ini menjadi roh bagi agama Katholik.

Pembicara kedua, Yulius Suharta, Kasatpol PP Kabupaten Bantul, mengatakan  ketika dirinya di tolak di Kecamatan Pajangan, ia tetap menjalankan tugasnya. Karena itu adalah perintah baginya sebagai aparatur sipil negara. Demikian juga awam Gereja, harus tahu tugasnya, yaitu berkontribusi pada masyarakat. Saat ini tantangan yang ada di tengah masyarakat adalah radikalisme, narkoba dan terorisme. Radikalisme adalah gagasan perubahan yang dilakukan secara ekstrim. Radikalisme ini muncul karena tidak tahu ajaran agama yang benar. Sehingga saat ini dibutuhkan sikap menghargai dan menghormati. Masing-masing pemuka agama harus mampu menata hatinya agar penuh toleransi. Karena sebenarnya pemerintah sudah memberi wadah lembaga-lembaga agama tingkat nasional untuk mendorong dialog iman. Sehingga yang diperlukan saat ini tinggal keaktifan dalam meningkatkan kerukunan dan keaktifan dalam mencegah konflik.

Terkait dengan radikalisme, Yulius Suharta mengatakan bahwa radikalisme biasanya terkait dengan keinginan perubahan. Maka jika ada pendatang baru, harus di amati, apakah menutup diri atau mau berbaur dengan masyarakat. Jika seseorang kemudian bergabung dengan kelompok radikal, biasanya perilakunya akan berubah. Jika tanda tanda ini terlihat, sebaiknya dilaporkan pada kadus atau kades. Warga tak perlu bertindak, hanya menginformasikan saja.

 

Wawan
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *