MENJADI GURU DENGAN SEMANGAT PELAYANAN – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

MENJADI GURU DENGAN SEMANGAT PELAYANAN

Ada satu identitas orang Katholik yang seharusnya dipahami oleh umat Katholik, yaitu menyadari bahwa Tuhan mengasihi orang lain dan kepada mereka Tuhan juga berkenan. Karena semua orang adalah anak angkat Tuhan dan kehidupan bersolidaritas kepadanya. Demikian kata Romo Deny Sulistiawan, MHum, Pr, pimpinan Yayasan Bernardus Direktorat Sekolah Sanjaya, Minggu (12/1), dalam acara rekoleksi guru “Guru Milenial yang Bersahabat dengan Semua Orang,” di Joglo Gesikan, Paroki Sedayu.

Setelah Natal, Gereja merayakan Keluarga Kudus Nasaret, Penampakan Tuhan Yesus dan Pembabtisan Tuhan Yesus. Dalam keempat peristiwa ini Tuhan hadir dan memberikan energi iman. Demikian juga harus dialami para guru. Ketika Tuhan bersabda, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMu Aku berkenan,” maka guru juga harus berusaha mengerti dan memahami orang lain, terutama peserta didiknya. Karena Tuhan pun berkenan kepada peserta didik. Maka guru tidak bisa sekedar menuntut orang lain, namun lebih menuntut diri sendiri. Yang dituntut juga juga tidak sekedar nilai pelajaran, tapi identitas pendidik Katholik yang berusaha mengerti orang lain. Dan tuntut-menuntut ini takkan pernah habis. Maka lebih baik jika pendidik bangkit menemukan energi untuk menjalani hidup.

Menurut Romo Deny, tanda kemuridan anak-anak Allah adalah jika mereka tidak lari ketika menghadapi persoalan besar. Karena roh yang harus dimiliki anak-anak Allah adalah yakin selalu ada pendampingan Tuhan. Pelayanan juga tak boleh hanya dalam tataran trenyuh, kasihan. Karena karena rasa kasihan ini ada batasnya. Jika rasa kasihan ini dilukai atau dikhianati, maka pelayanan akan berhenti. Motivasi sebuah pelayanan harus lebih dalam lagi, tidak sekedar emosi semata.

Ada kalanya pelayanan harus berbuah transformasi, memiliki daya ubah. Dan kadang perubahan ini, agar berhasil, tak bisa dipaksakan. Perubahan tanpa paksaan bisa terjadi jika ada keindahan yang ditawarkan. Jika paparan guru tidak menarik, maka pelajaran juga sulit ditangkap siswa. Karena siswa tidak melihat ada keindahan dalam pelajaran guru tersebut. Jika seorang imam memberikan homili yang materinya berisi dengan penyajian yang menarik, maka umat juga akan ingat. Maka keindahan ini harus diciptakan supaya menjadi energi daya tarik.

Kaindahan ini juga akan terpancar jika orang tersebut sehat. Kesehatan maliputi sehat tubuh, sehat jiwa dan sehat roh. Agar sehat, maka memerlukan makanan. Makanan bagi tubuh adalah makanan yang masuk ke dalam mulut. Makanan bagi jiwa adalah semua yang masuk melalui mata dan telinga. Misalnya ucapan terima kasih, informasi, berita yang dibaca. Maka informasi melalui media komunikasi harus dipilah dan dipilih. Informasi yang baik akan menyehatkan jiwa. Dan makanan bagi roh adalah doa, amal kasih, membaca Kitab Suci dan Ekaristis. Jika makanan untuk tubuh, jiwa dan roh adalah sehat, maka hidup akan ayem. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan pemberian hasil celengan anak di Gereja St Theresia Sedayu pada Yayasan St. Bernardus melalui Romo Deny.

Wawan S
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *