MENCOBA BERTAHAN DI ERA MEDIA DIGITAL – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Artikel

MENCOBA BERTAHAN DI ERA MEDIA DIGITAL

Dominasi media digital dalam sistem komunikasi kita adalah sebuah keniscayaan. Bisa jadi, komunikasi analog akan punah sejalan dengan habisnya generasi “baby boomers,” yang lahir antara tahun 1946 sampai tahun 1964. Sebagai generasi “immigrant connected,” saya selalu tergelitik dengan pertanyaan: apa jadinya jika generasi manusia, yang selama ribuan tahun hidup di dunia nyata, kini harus berteman dengan dunia maya semenjak lahir. Dalam artikel ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan: ketika media digital sudah tak terbendung lagi untuk merasuki kehidupan kita, apa yang bisa kita lakukan agar tetap bisa bertahan?

Menurut banyak penelitian, membaca media cetak dengan membaca media digital adalah dua hal yang berbeda. Ketika Anda membaca media cetak, maka Anda akan diarahkan untuk membaca baris per baris kalimat, halaman per halaman. Namun perilaku ini akan berbeda ketika Anda membaca media digital, baik di PC, laptop, mobile phone, dan e-reader lainnya. Zim Lu, peneliti dari  San Jose State University, mengatakan bahwa ketika membaca media digital, orang cenderung melakukan “browsing, scanning, dan skimming,” dibanding membaca secara mendalam (deep reading).

Biasanya, kecepatan orang dewasa membaca buku tidak lebih dari 300 kata per menit. Namun, sebuah  penelitian mengalkulasi, bahwa ketika orang dewasa membaca media digital, dengan teknik “browsing, scanning, dan skimming,” mereka bisa melahap sampai 34 gigabyte informasi per hari, atau setara dengan 100 ribu kata per hari. Atau sama dengan membaca buku efektif selama lima setengah jam.

Namun perlu dicatat bahwa angka 300 kata per menit takkan bisa diraih jika kita membaca secara mendalam, membaca secara cermat, atau membaca konsep yang rumit. Membaca secara mendalam (deep reading) adalah proses aktif membaca secara bijaksana dan tidak tergesa-gesa agar mampu memahami dan menikmati sebuah teks. Mungkinkah kita memahami konsep baru yang tidak sederhana dengan kecepatan baca 300 kata per menit? Atau menikmati karya sastra yang puitis dengan secepat itu?

Namun dunia mulai berubah. Tuntutan jaman memaksa manusia untuk mengurangi produksi kertas. Tidak lama lagi akan datang keadaan di mana hampir semua tulisan tak lagi dicetak di atas kertas. Dan dampak dari mengkonsumsi 34 gigabyte data per hari sudah mulai kelihatan dan akan segera meluas. Enggan membaca bacaan yang panjang, kesulitan untuk memusatkan pikiran dalam waktu lama sampai budaya jalan pintas, adalah beberapa dampak yang mulai kelihatan. Dampak ini sudah memiliki turunan berupa mudahnya orang percaya dan menyebarkan berita bohong.

Maryanne Wolf, penulis buku “Reader Come Home: The Reading Brain in A Digital World,” mengajukan satu metode solusi, yang disebut “bi-literate reading brain.” Metode ini mencoba memberi solusi ketika hampir semua bacaan berupa e-reader, yaitu tetap mempertahankan teknik membaca secara mendalam, namun juga bisa dibawa kepada metode membaca secara cepat. Ada dua fakta yang perlu diingat. Pertama, membaca adalah sebuah inovasi budaya, yang artinya sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan genetik manusia. Namun, fakta kedua, otak manusia bisa berkembang dan beradaptasi dengan kebiasaan.

Maka Maryanne Wolf memberi solusi dengan tidak memberikan media digital apa pun kepada anak yang berusia sebelum lima tahun. Memang pada usia yang sangat muda, anak dengan cepat mampu menguasai media digital. Bahkan mereka lebih cepat menguasai media digital dibanding media analog. Namun di sinilah penekanan dari solusi ini, bahwa anak diajak untuk berproses secara sabar, selangkah demi selangkah. Menjalani proses yang lambat dan penuh pertimbangan ini akan menjadi dasar bagi anak ketika ia harus menghadapi derasnya arus informasi. Proses ini akan menjadi penangkal godaan dalam budaya digital, yaitu membaca secara cepat dan segera berpindah ke halaman berikutnya, memelihara pola konsumsi media yang pasif dan tidak berani untuk bertanya dan mencari tahu.

Namun, gagasan ini menghadapi tantangan yang besar. Ketika anak yang masih belia sudah pintar bermain gawai, pintar merekam video, sudah mahir ber-“video call,” orang tua bangga ataukah sedih? Ketika sebuah lembaga pendidikan, taman bermain, TK atau SD, belum memiliki laptop, komputer, LCD, wifi dan seterusnya, pengelola lembaga pendidikan tersebut bangga ataukah sedih?

Perlu diketahui bahwa beberapa sekolah bergengsi di Silicon Valley, justru menerapkan metode pembelajaran secara tradisional. Kertas, buku, whiteboard, bahkan papan tulis (blackboard) dan kapur, masih mereka gunakan. Para siswa didorong untuk berdiskusi dan beraktifitas fisik di luar gedung dan melarang penggunaan gawai. Lihat juga cara para pengusaha teknologi mendidik anaknya. Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Mark Cuban, Alexis Ohanian, Athena Chavarria dan Chriss Anderson adalah contoh pengusaha teknologi yang melarang anaknya menggunakan smart phone sampai usia tertentu. Jadi, beranikah Anda melarang anak Anda menggunakan gawai sampai usia remaja?

 

Wawan S
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *