Mari Terlibat Bembangun Rumah Tuhan – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

Mari Terlibat Bembangun Rumah Tuhan

Paroki Santa Theresia Sedayu merupakan salah satu paroki yang ada di Kabupaten Bantul. Meski demikian, wilayah Paroki Santa Theresia Sedayu tidak hanya di Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul saja, namun juga meliputi Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, dan Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo.

Menurut data, jumlah umat Paroki Santa Theresia Sedayu saat ini berjumlah empat ribu orang. Jumlah ini sangat mungkin untuk bertambah mengingat posisi Kecamatan Sedayu, Kecamatan Moyudan dan Kecamatan Sentolo berada di sebelah barat batas kota Yogyakarta. Padahal pada sekitar tahun 2020 Bandara Kulonprogo direncanakan sudah mulai beroperasi. Dampaknya adalah laju pertumbuhan perumahan di kawasan ini diperkirakan akan meningkat pesat. Dengan adanya perumahan baru, maka jumlah penduduk di kawasan ini juga akan meningkat. Dan peningkatan jumlah penduduk ini juga akan mempengaruhi jumlah umat Paroki Santa Theresia Sedayu.

Sejarah singkat bangunan Gereja St. Theresia Sedayu

Gereja Paroki Sedayu pertama kali berdiri tahun 1927. Saat itu pembangunan gereja dilakukan  secara bergotong royong. Gereja pertama ini bertahan selama 52 tahun. Tahun 1979 bangunan gereja pertama ini dipugar dan dibangun kembali dengan mengambil bentuk joglo berukuran 18 x 18 meter persegi. Bangunan utama gereja ini memiliki kapasitas empat ratus umat. Karena jumlah umat yang terus bertambah, kemudian dibangun sayap di sebelah barat bangunan utama dan pendopo di depan/sebelah utara bangunan utama.

Tahun 2007 Gereja St. Theresia Sedayu meresmikan bangunan panti paroki. Panti paroki ini meliputi aula, ruang rapat, kantor paroki dan tempat tinggal pastur. Dalam pembangunan tersebut juga dilakukan penataan halaman gereja sehingga menjadi lebih luas.

Mengapa perlu membangun gereja baru?

Bangunan gereja yang ada saat ini sudah berumur empat puluh tahun. Dan selama sepuluh tahun terakhir bangunan gereja ini mengalami beberapa kali renovasi. Perbaikan bagian per bagian ini dalam kenyataannya tidak menuntaskan persoalan dalam jangka panjang. Bahkan di bagian bagian tertentu, misalnya di atas ruang sankristi, tidak diadakan perbaikan selama tidak ada kebutuhan yang sangat mendesak. Karena diperkirakan di atas ruang sankristi tersebut kondisinya sudah rapuh. Sebuah perbaikan kecil bisa merembet menjadi kebutuhan akan perbaikan besar.

Menurut perkiraan berdasar pengamatan, terutama bagian kerangka atap bangunan utama, beberapa tahun kedepan gedung gereja ini akan mengalami kerusakan yang parah. Kerusakan ini disebabkan usia material yang sudah mendekati batas pemakaian. Perbaikan bagian per bagian juga tidak akan menuntaskan persoalan pada bagian atap gereja. Karena harus berbagi waktu dengan penggunaan gereja untuk ibadah. Demikian juga dengan ongkos perbaikan bagian per bagian yang dinilai justru mengakibatkan nilai akumulasinya menjadi terlalu mahal.

Tata letak panti imam dan tabernakel seharusnya disesuaikan dengan ketentuan Gereja Katholik Roma. Misalnya soal tabernakel, menurut aturan Pedoman Umum Misale Romawi tabernakel berada di tempat yang cukup ditinggikan, di bagian tengah/ pusat dari ujung cekungan pengakhiran gereja. Sementara di Gereja Santa Theresia Sedayu, karena bangunannya berbentuk joglo, keempat sisi tembok dan langit-langitnya adalah simetris. Maka dari segi bentuk, kurang mendukung pemusatan pada bagian panti imam. Tataletak lainnya juga belum selaras dengan Pedoman Umum Misale Romawi. Koor dan organis misalnya, seharusnya ditempatkan di tempat yang khusus.

Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah animo umat untuk mengikuti Ekarsti mingguan di gereja. Meski jumlah umat tidak/belum mengalami peningkatan secara signifikan, namun beberapa tahun terakhir animo umat untuk mengikuti Ekaresti mingguan di gereja paroki meningkat pesat. Bangunan gereja utama, sayap dan pendopo kadang tidak cukup untuk menampung jumlah umat yang hadir, terutama pada Ekaresti Minggu pagi. Bahkan ketika ada penambahan jadwal Ekaresti pada Minggu sore, kenyatannya masih banyak umat yang menghadiri Ekaresti Minggu pagi yang harus duduk di pelataran gereja, diantara kendaraan yang terparkir.

Bangunan gereja yang direncanakan

Dalam kompleks Gereja St Theresia Sedayu saat ini terdapat bangunan yang relatif baru, dibangun sekitar sepuluh tahun yang lalu, yang meliputi kantor paroki, aula dan pasturan. Juga terdapat menara lonceng. Bangunan-bangunan ini masih tetap dipertahankan. Maka bangunan gereja yang baru, dan juga tataletak bangunan lain yang seandainya akan dibangun kemudian, harus menyesuaikan dengan bangunan yang sudah ada.

Bagunan gereja yang akan dibangun diharapkan mampu mengakomodasi keterbatasan-keterbatasan yang saat ini terjadi. Maka, seperti yang disebutkan di atas, bangunan gereja yang baru harus memiliki kapasitas yang lebih banyak. Bangunan yang akan dibangun ini diharapkan bisa digunakan selama lima puliuh tahun. Maka diharapkan bisa mengakomodasi penambahan umat yang mengikuti Ekaresti di gereja paroki dalam kurun lima puluh tahun kedepan.

Bangunan yang baru diharapkan bisa memenuhi kebutuhan tata liturgi Gereja Katholik Roma. Sehingga keterbatasan-keterbatasan yang terjadi saat ini diharapkan akan bisa dihilangkan. Meski bukan faktor utama, namun diharapkan dengan adanya bangunan gereja yang baru, situasi perayaan liturgi juga akan menjadi lebih kondusif. Sirkulasi udara akan lebih baik, dan pencahayaan lebih baik ketika digunakan pada siang hari. Bangunan gereja yang baru juga menyediakan akses terhadap penyandang disabilitas fisik.

Langkah kerja

Untuk membangun sebuah gereja, tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, Paroki Sedayu melakukan langkah pertama dengan membentuk panitia persiapan. Panitia persiapan pembangunan sudah dibentuk pada akhir tahun 2016, dan akan bekerja sampai tahun 2019. Tugas pertama panitia persiapan adalah menentukan seperti apa gereja yang hendak dibangun dan berapa perkiraan biayanya jika dibangun tahun 2016.

Untuk tahun pertama ini, panitia telah melakukan sosialisasi dan penggalangan dana dari umat Paroki Sedayu. Penggalangan dana ini berbentuk iuran bulanan umat, kolekte Ekaristi pernikahan di gereja, kolekte Ekaristi di lingkungan dan gerakan umat lainnya. Namun dalam tahun pertama ini dana yang terkumpul masih jauh dari yang diharapkan terkumpul tiap tahunnya.

Pada tahun kedua, tahun 2018, panitia membuka kesempatan untuk keterlibatan umat Katholik di luar paroki dan masyarakat luas. Penggalangan dana akan terus diperluas sampai tahun ketiga.

Awal tahun keempat, tahun 2020, diharapkan seluruh dana yang dibutuhkan sudah terkumpul, sehingga panitia bisa memulai untuk membangun gedung gereja yang baru

Prakiraan anggaran

Jika gereja yang baru dibangun dengan harga material dan harga tenaga kerja tahun 2016, maka besarnya anggaran yang sibutuhkan adalah sebagai berikut:

 

No Nama Bangunan Satuan luas Harga per satuan luas Harga tiap bangunan
1 Bangunan gereja 877 m2 Rp 4.500.000,00 Rp   3.946.500.000,00
2 Area parkir 1442 m2 Rp    150.000,00 Rp      216.300.000,00
3 Gua Maria 105 m2 Rp 1.000.000,00 Rp      105.000.000,00
Total Rp 4.267.800.000,00

Jika rencana ini mulai direalisasikan pada tahun 2019, dengan memperkirakan laju inflasi 10% pertahun, maka jumlah dana yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 5.600.000.000,00 (lima milyar enam ratus juta rupiah).

Bagaimana umat diluar Paroki Sedayu bisa melibatkan diri?

Sebagai bentuk rasa cinta kepada Paroki St. Theresia Sedayu, umat yang hidup di luar paroki dapat mempersembahkan sebagian rejekinya dengan mengirimkan dana ke Panitia Persiapan Pembangunan melalui rekening BCA nomor 8020-87-8020 atas nama PGPM Paroki Santa Theresia.

Selain itu umat diluar paroki dapat membantu Panitia Persipan Pembangunan dengan menyampaikan proposal kepada calon donatur atau pun bentuk bantuan lainnya. Alamat kontak Panitia Persiapan Pembangunan adalah sebagai berikut:

  1. Gereja St. Theresia Sedayu, Gubug RT 49, Argosari, Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta 55752. Nomor telepon sekretariat paroki 0274-4546755
  2. Rama Yohanes Triwidianto, Pr, email 9triwidianto@gmail.com, telp. 0813 2597 5271
  3. Markoes Padmonegoro, email padmonegoro@gmail.com, telp 0812 1580 838
  4. Antonius Ananta Nugraha, email masanantanugraha@yahoo.com, telp 0878 3840 1978
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *