KESADARAN EKOLOGIS UNTUK KEBERLANGSUNGAN HIDUP BERSAMA – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Sekolah Iman

KESADARAN EKOLOGIS UNTUK KEBERLANGSUNGAN HIDUP BERSAMA

Manusia, dan makhluk lain, takkan bisa dilepaskan dari ekosistem tempat hidupnya. Ketika ekosistem ini rusak, maka hidup manusia akan terganggu. Penyadaran akan lingkungan hidup sebagai bagian ekosistem yang akan mempengaruhi kehidupan manusia, disebut sebagai pendidikan ekologis. Jika kesadaran ini timbul, juga akan muncul kesadaran bahwa seorang manusia takkan bisa hidup tanpa manusia lain dan ciptaan lain. Demikian kata Yohanes Triwidianto, Pr, dalam sekolah iman bertema pendidikan ekologis, Senin (27/5).

Dalam lingkup yang lebih luas, terdapat istilah mentalitas kosmik, yaitu kesadaran bahwa makhluk hidup berada dalam ruang dan waktu, dan ditentukan oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, manusia harus menjaga dan menghargai semua kehidupan. Caranya adalah dengan menggunakan sumber daya alam secara lebih bertanggung jawab. Leonardo Boff, pencetus gagasan spiritualitas kosmik, menyatakan bahwa hidup ini tidak hanya didasarkan pada insting atau kegunaan semata, namun juga ada suatu komunikasi-relasi dengan ciptaan lain. Manusia menggunakan alam untuk menunjang kelangsungan hidup manusia sendiri. Sementara ciptaan lain berkurban untuk kelangsungan ciptaan lain dan juga manusia.

Untuk menjaga keseimbangan ini, maka perlu prakarsa bersama dan pribadi. Prakarsa yang paling sederhana adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara pribadi. Misalnya mematikan peralatan listrik jika tidak dibutuhkan, penghematan air dan membuang sampah pada tempatnya. Dalam lingkup yang besar, diperlukan kontrol atas pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan eksplorasi. Karena alam bukanlah obyek yang digunakan begitu saja. Alam adalah subyek yang harus dihargai dan di jaga.

Dalam tataran makro ini di mana peran pemerintah? Pemerintah berperan dalam kebijakan publik. Kebijakan politik harus memperhitungkan dampak dan hasil yang akan di capai. Tentu mematahkan kebiasaan revolusi agraria ala Orde baru, bukanlah hal yang mudah. Namun pemerintah harus bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam ini. Karena pembangunan bukan hanya sekedar mendirikan fasilitas-fasilitas, namun juga mengembangkan manusia yang ada. Perlu didorong adanya pembangunan manusia seutuhnya, yang juga menyangkut lingkungan hidup manusia. Menjadi manusia yang bertanggung jawab berarti manusia harus memperhatikan ciptaan lain. Dengan akal budi manusia harus merawat, memelihara dan memperkembangkan ciptaan lain.

Dalam konsep dan praksis hidup mistik, diyakini bahwa makhluk yang lain adalah saudara. Namun gagasan ini menghilang setelah revolusi industri. Oleh karena itu diperlukan kasih, yang memberi penghargaan atas kebaikan, keindahan dan nilai intrinsik tiap ciptaan. Juga diperlukan sikap hormat dan cinta agar mampu bersikap tenggang rasa dan tahu batas. Dalam hal batas-batas konsumsi, tidak hanya semata terkait dengan segala sesuatu yang tak terbaharukan, namun juga terkait dengan hal-hal yang terbaharukan. Karena jika makhluk hidup dikonsumsi secara berlebihan, maka ia tetap bisa punah. Untuk itu diperlukan sikap untuk bisa berkata “cukup” untuk hal-hal yang sebenarnya tak dibutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *