ETIKA HIDUP BERSAMA CIPTAAN LAIN – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

ETIKA HIDUP BERSAMA CIPTAAN LAIN

Etika atau moral adalah perilaku manusia yang ditentukan oleh suatu komunitas di mana ia hidup. Dengan hidup beretika/bermoral, diharapkan kehidupan bisa menjadi lebih baik, mencari “keamanan” sebagai garansi hidup dan kebersamaan. Karena manusia hidup tak lepas dari lingkungan di mana ia tinggal, maka etika juga dipengaruhi oleh ekologi. Masa depan akan terjamin jika sesama ciptaan tidak saling melanggar kepentingan sesamanya. Demikian kata Yohanes Triwidianto, Pr, dalam Sekolah Iman, Kamis (25/4) di Gereja St. Theresia Sedayu.

Eko-etika adalah tanggung jawab yang tak terbatas dari segala sesuatu yang ada dan hidup, supaya hubungan yang terjadi diantara mereka harmonis. Tanggung jawab ini terjadi mendahului kebebasan. Tuntutan hidup secara harmonis mendatangkan kesadaran kita sebagai bagian alam semesta. Maka etika juga bersifat eksosentris/kosmosentris, dan akan mendorong tumbuhnya solidaritas kosmik. Sehingga seharusnya dunia bukan menjadi ajang perjuangan untuk berada (struggle for existence), namun menjadi medan berbagi kasih (sharing of love).

Atau secara mudahnya, eko-etika berarti “katakan cukup.” Manusia dituntut untuk mengerti dan memahami tingkat kebutuhannya, sambil menjaga keberlangsungan hidup ciptaan lain. Manusia harus mengetahui batas dan berani berkata “cukup.” Oleh karena itu etika ekologis harus menghormati sesama ciptaan, harus mau menerima perbedaan, harus mau menghargai keunikan tiap ciptaan, dan membela keberadaan ciptaan lain.

Industrialisasi yang terjadi secara besar-besaran akan mempercepat kerusakan lingkungan. Karena keegoisan manusia ini, maka Allah melibatkan manusia dalam pencitraan-Nya kembali. Allah memanggil manusia untuk memperbaharui kerjasama dengan alam (proyek solidaritas alam semesta). Karena Allah tidak hanya menebus manusia semata, namun juga untuk menebus seluruh ciptaan.

Sebenarnya kepercayaan leluhur manusia menempatkan manusia selaras dengan alam tempat ia hidup. Namun kemudian datang agama-agama besar, yang diikuti dengan modernitas. Pada dasarnya setiap agama mengajarkan keselarasan dan pelestarian ciptaan. Namun banyak terjadi nilai agama yang diambil adalah hubungan personal individu dengan Tuhan. Modernitas, yang mengekor agama-agama tersebut, juga mendorong rasionalitas. Maka kepercayaan-kepercayaan kuna yang menjadi benteng terakhir pelestarian alam, pada akhirnya luntur. Dan akibatnya alam juga mulai rusak. Namun, semenjak akhir abad 20, setelah terjadi banyak kerusakan alam, gagasan tentang pelestarian mulai diterima. Di beberapa tempat, tempat ziarah menjadi tempat pelestarian alam dan sumber air.

Pada akhir tahun 2009, diperkirakan jumlah penduduk dunia adalah 6.777.599.000 jiwa. Dan diperkirakan bumi hanya bisa dihuni oleh 35 milyar jiwa. Ini merupakan tantangan yang menuntut tanggung jawab manusia. Tanggung jawab ini menuntut cara pandang baru, yaitu bahwa manusia tak boleh melihat ciptaan lain sebagai alat produksi dan konsumsi semata. Persoalan terbesar yang dihadapi manusia adalah motif hidup yang berorientasi keuntungan. Motivasi ini memiliki kecenderungan merusak. Sehingga dibutuhkan mental ekologis yang dimulai dari keluarga.

Lawan dari mental ekologis adalah mentalitas modern, yaitu konsumerisme, egoisme, individualisme, partikularisme dan lainnya. Sehingga dibutuhkan gagasan bahwa manusia bukan pusat, namun bagian dari alam. Gereja bisa terlibat dengan memperhatikan pola hidup ekologis. Salah satunya adalah visi keselamatan untuk semua ciptaan. Seperti kata Fransiskus Asisi, kita menggunakan tanpa membunuhnya, kita memakainya sambil menjaga, kelestarian hidup dari alam semesta.

 

Wawan S
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *