BELAS KASIH TUHAN LEWAT SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Berita

BELAS KASIH TUHAN LEWAT SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT

IMG-20181104-WA0014Hampir setiap orang tentu pernah merasakan sakit. Ketika sakit orang akan merasakan kesendirian karena tidak mampu beraktifitas seperti orang sehat. Penyakit yang diderita juga bisa memicu kecemasan yang berlebihan, dan depresi pun bisa terjadi. Maka ketika sakit, orang membutuhkan penghiburan. Namun iman Katholik mengajarkan satu hal yang pasti. Bahwa Allah mencintai semua orang, baik yang sehat mau pun yang sakit. Demikian kata Romo Yohanes Triwidianto dalam formatio iman berjenjang, Kamis (15/10) di Gereja St. Theresia Sedayu, Bantul.

Dalam Kitab Suci, khususnya Injil Lukas, diceritakan bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit. Yesus juga mengutus para rasul untuk menyembuhkan orang sakit. Karya ini juga diteruskan oleh Gereja. Salah satu wujudnya adalah Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Dalam Sakramen Pengurapan, Gereja menyerahkan umat beriman yang berada dalam bahaya sakit atau usia lanjut kepada Tuhan. Tujuannya agar Ia meringankan penderitaannya dan menyelamatkannya. Sakramen Pengurapan Orang Sakit ini bisa diberikan secara pribadi mau pun secara bersama. Penerimaan secara masal bisa terjadi pada waktu Hari Orang Sakit, atau Misa Lansia di Gereja Sedayu, atau ketika ancaman bahaya terjadi karena perang atau bencana.

Sakramen ini bisa diterimakan lagi jika penerima sakit lagi setelah sempat sembuh, atau jika penyakitnya menjadi lebih parah. Dalam hukum kanonik disebutkan bahwa sebisa mungkin penerima sakramen ini sebelumnya melakukan pengakuan dosa dan dilengkapi dengan penerimaan komuni. Setelah menerima sakramen pengurapan, orang akan mengalami buah sakramen ini. Pertama, persatuan dengan sengsara Kristus demi keselamatan. Kedua, anugrah Roh Kudus yang memberi penghiburan, perdamaian dan keberanian menganggung penderitaan. Ketiga, penghapusan dosa. Keempat, penyembuhan jika itu dikehendaki Tuhan. Dan kelima, persiapan untuk beralih ke hidup kekal.

Romo Yohanes Tri mengatakan bahwa sakramen Pengurapan Orang Sakit hanya bisa diterimakan oleh imam. Sakramen ini hanya diberikan kepada mereka yang sakit atau lanjut usia yang masih mampu menggunakan akal budi. Bagi mereka yang sudah tidak mampu berkomunikasi, sakramen ini hanya diberikan kepada mereka yang pernah menyatakan memintanya atau setuju menerimanya, baik secara implisit mau pun eksplisit.

Sakramen ini tidak diberikan kepada mereka yang membandel dalam dosa berat yang nyata, yaitu kemurtadan, bidaah dan skisma. Kemurtadan adalah berpindah agama atau kepercayaan, baik resmi maupun tidak resmi. Namun dalam kenyataannya, atas dasar kemurahan hati, mereka yang terpaksa murtad, bisa menerima sakramen ini sejauh menunjukkan kerinduan untuk mengimani Yesus.Bidaah adalah ajaran sesat. Romo Yohanes Tri menyebut di KAS ada kelompok bidaah yang terlalu mengagungkan Maria. Skisma adalah gerakan menolak kesatuan Gereja dengan supremasi Paus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *