BANGUNAN GEREJA BARU, HARAPAN YANG AKAN MENJADI KENYATAAN – Gereja Santa Theresia Sedayu
Loading...
Artikel

BANGUNAN GEREJA BARU, HARAPAN YANG AKAN MENJADI KENYATAAN

gereja_new3

Bangunan gereja St. Theresia Sedayu didirikan setelah di Sedayu terdapat persekutuan umat beriman yang jumlahnya terus berkembang. Bangunan gereja dan pasturan dibangun dengan semangat gotong royong, mulai tahun 1926 sampai 1927. Ukuran gereja adalah 7 x 17 meter persegi dan mampu menampung 600 orang.

Gereja ini bertahan sampai tahun 1979 dan dibongkar ketika pastor paroki dijabat Romo Subiyanto, Pr. Tahun berikutnya gereja “joglo” dibangun dengan ukuran 18 x 18 meter dan dana gotong royong umat.

Setelah hampir 40 tahun dibangun ulang, saat ini Gereja St. Theresia Sedayu kembali membutuhkan renovasi gedung gereja. Mengapa bangunan gereja harus dibangun?

Alasan yang utama adalah karena usia bangunan yang mendekati 40 tahun, sehingga banyak bagian bangunan yang rusak. Alasan kedua adalah soal keamanan dan kenyamanan beribadah, yaitu meliputi kebutuhan liturgis peribadatan dan keamanan harta benda. Alasan ketiga adalah kebutuhan dinamika umat ke depan.

Dengan kebutuhan seperti ini, mungkinkah kita bisa membangun? Jawabannya adalah pasti bisa. Alasan pertama adalah karena jumlah umat yang melebihi 4000 jiwa. Dari jumlah itu, menurut data, 60% umat memiliki penghasilan, dan 1000 orang diantaranya memiliki penghasilan yang lebih baik. Alasan lainnya adalah jiwa gotong royong dan keinginan kuat untuk memiliki bangunan gereja yang lebih baik.

Membangun gereja tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lantas, apa yang bisa dilakukan agar bisa tersedia dana untuk disumbangkan?

Yang pertama adalah dengan menyisihkan dari penghasilan dan disumbangkan dalam bentuk dana. Yang kedua adalah gerakan ekologis, yaitu dengan menyumbangkan hasil pertanian (termasuk perikanan dan peternakan) yang keuntungannya/hasilnya dihibahkan kepada panitia pembangunan. Yang ketiga adalah penggalangan dana dalam kegiatan kesenian, atau dengan menawarkan kegiatan kesenian yang upahnya disumbangkan untuk pembangunan. Dan bentuk-bentuk lainnya.

Untuk teknis pengumpulan dana, ada banyak cara. Yang pertama adalah komitmen bulanan, yang harus diisi setiap bulan. Yang kedua adalah menyisihkan sedikit uang, namun rutin dilakukan setiap hari. Dalam kurun waktu tertentu, hasilnya disetor kepada panitia pembangunan. Yang ketiga adalah kotak persembahan, yang diisi setiap ada rejeki yang bisa dipersembahkan. Dan tentu saja panitia menerima sumbangan dalam bentuk tenaga atau material.

Dengan banyak sumber dan banyak cara seperti ini, diharapkan mimpi gereja baru bisa terwujud lebih cepat.

Kondisi Gereja saat ini:

gereja_real

 

One comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *